MASALAH
GIZI REMAJA DAN PENANGANANNYA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kata
gizi berasal dari bahasa Arab “ghidza” yang berarti makanan. WHO mengartikan
ilmu gizi sebagai Ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme
hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan cair
dari makanan (proses pencernaan, transport dan ekskresi) yang di perlukan untuk
memelihara kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya organ tubuh dan menghasilkan
energi.
Anak remaja mempunyai
kebutuhan nutrisi yang spesial, karena pada saat tersebut terjadi pertumbuhan
yang pesat dan terjadi perubahan kematangan fisiologis sehubungan dengan
timbulnya pubertas. Perubahan pada masa remaja akan mempengaruhi kebutuhan,
absorbsi, serta cara penggunaan zat gizi. Hal ini di sertai dengan pembesaran organ
dan jaringan tubuh yang cepat. Perubahan hormon yang menyertai pubertas juga
menyebabkan banyak perubahan fisiologis yang memengaruhi kebutuhan gizi pada
remaja.
Pertumbuhan yang pesat
dan masa pubertas pada remaja tergantung pada berat dan komposisi tubuh
seseorang. Ini menunjukkan bahwa status gizi memegang peranan penting dan
menentukan status kematangan fisiologis seseorang. Status gizi di bawah normal
atau adanya penyakit kronis dapat menghambat pubertas.
Pertumbuhan tinggi
badan yang pesat di mulai pada usia 10 tahun; mencapai puncaknya pada usia 12
tahun pada anak perempuan, dan antara usia 12 – 14 tahun pada anak laki-laki.
Penambahan berat badan yang pesat di mulai kira-kira 6 bulan setelahnya.
Periode pertumbuhan yang cepat akan berakhir setelah 2,5 – 3 tahun. Jadi,
periode kebutuhan gizi yang besar adalah pada remaja yang berusia antara 12 –
15 tahun pada laki-laki dan 10 – 13 tahun pada perempuan.
Kecepatan petumbuhan
dan kebutuhan gizi bervariasi pada masing-masing individu remaja. Ini menunjukkan bahwa di bandingkan usia,
tingkat kematangan seksual yang didasarkan pada munculnya tanda seksual
sekunder lebih mempunyai makna sebagai indikator dalam menentukan kebutuhan
gizi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah Pengaruhnya kebutuhan gizi
terhadap perkembangan remaja?
2.
Apakah pertumbuhan fisik dapat
berkembang dengan baik ketika kebutuhan gizi dapat terpenuhi?
3.
Apa penyebab status gizi tidak normal
pada remaja?
C. Tujuan
1.
Mengetahui status gizi menginjak usia
remaja.
2.
Pengaruh kebutuhan gizi terhadap
perkembangan remaja.
3.
Pengaruh kebutuhan gizi terhadap
pertumbuhan fisik remaja.
4.
Mengetahui penanganan status gizi pada
remaja.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Kebutuhan Gizi Pada Anak Remaja
Kebutuhan
gizi pada anak remaja lebih tinggi di bandingkan usia anak kecil. Namun
kebutuhan gizi pada remaja laki-laki dengan remaja perempuan tentu
berbeda. Hal ini di sebabkan oleh adanya
pertumbuhan yang pesat, kematangan seksual, perubahan komposisi tubuh,
mineralisasi tulang dan perubahan aktivitas fisik. Meskipun aktivitas fisik
tidak meningkat, tetapi total kebutuhan energi akan tetap meningkat akibat
pembesaran ukuran tubuh. Kebutuhan nutrisi yang meningkat pada masa anak remaja
adalah energi, kalsium, besi dan zinc.
A. Energy
Kebutuhan
energy pada individu remaja yang sedang tumbuh sulit untuk ditentukan secara
tepat. Faktor yang perlu di perhatikan untuk menentukan kebutuhan gizi remaja
adalah aktivitas fisik seperti olahraga. Remaja yang aktif dan banyak melakukan
olahraga memerlukan asupan energi yang lebih besar di bandingkan dengan remaja
yang kurang aktif berolahraga.
Energi
yang di gunakan untuk melakukan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari di dapat
oleh tubuh dari energi yang di lepaskan di dalam tubuh pada proses pembakaran
zat makanan. Akan tetapi kita tidak memperoleh seluruh energi makanan yang kita
makan, karena tidak semua energi yang terkandung di dalam makanan dapat diubah
oleh tubuh menjadi energi kerja.
Dalam
proses metabolisme tubuh, energi makanan hanya sebagian di ubah ke dalam enrgi
kerja, sedangkan sebagian lagi diubah menjadi panas. Dengan demikian dapat di
mengerti bila habis makan atau tidak melakukan kerja, sehu badan akan
meningkat. Di dalam tubuh ada tiga golongan zat makanan yang dapat di oksidasi
untuk mendapatkan energi yaitu karbohidrat, lemak dan protein.
B. Karbohidrat
Karbohidrat
adalah zat organik yang mengandung unsur karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen
(O) dengan rumus molekulnya CH2O. Karbohidrat merupakan unit gula individual
atau rantai unit gula yang menyatu. Karbohidrat merupakan senyawa hasil
fotosintesis tumbuhan hijau melalui reaksi berikut :
nCO2
(karbondiokasida) + H2O (air) à Cn(H2O)x (karbohidrat) + nO2 (oksigen).Selain
sebagai sumber energi utama, karbohidrat berfungsi sebagai berikut :
1. Sumber
energi dengan fungsi utamanya adalah menyediakan energi bagi tubuh. Satu gram
karbohidrat mengahsilkan 4 kkal.
2. Pemberi
rasa manis pada makanan. Rasa manis ini akan terasa bila kita memakan nasi
dengan mengunyah beberapa kali.
3. Penghemat
protein. Bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan digunakan
untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat
pembangun.
4. Pengatur
metabolisme lemak. Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak
sempurna.
C. Lemak
Lemak
merupakan simpanan energi bagi manusia dan hewan. Lemak merupakan senyawa
organik yang mengandung unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Dalam lemak,
oksigen lebih sedikit dari pada yang terdapat pda kebohidrat. Itulah sebabnya
pada waktu pembakaran, lemak mengikat lebih banyak oksigen sehingga panas yang
di hasilkan lebih banyak. Lemak yang disimpan di bawah kulit merupakan
persediaan energi jangka panjang dan merupakan insulin dalam tubuh. Lemak
merupakan bahan penting dalam membran sel dan sifatnya tidak dapat larut dalam
air. Setiap 1 gram lemak menghasilkan 9 kkal.
Lemak
mempunyai fungsi yang cukup banyak, lemak yang terdapat dalam bahan makanan
berfungsi sebagai :
1. Sumber
energi, dimana tiap 1 gram lemak menghasilkan sekitar 9 kkal.
2. Menghemat
protein dan thiamin.
3. Membuat
rasa kenyang lebih lama, sehubungan dengan dicernanya lemak lebih lama.
4. Pemberi
cita rasa dan keharuman yang lebih.
5. Memberi
zat gizi lain yang di butuhkan tubuh.
Sedangkan
fungsi lemak dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1. Sebagai
pembangun/pembentuk susunan tubuh
2. Pelindung
kehilangan panas tubuh
3. Sebagai
penghasil asam lemak esensial
4. Sebagai
pelarut vitamin A,D,E,K
5. Sebagai
pelumas di antara persendian
6. Sebagai
agen pengemulsi yang akan mempermudah transpor substansi lemak keluar masuk
melalui membran sel
7. Sebagai
prekursor dari prostaglandin yang berperan mengatur takanan darah, denyut
jantung dan lipolisis.
D. Protein
Protein
juga meningkat pada masa remaja, karena proses pertumbuhan tarjadi dengan
cepat. Pada akhir masa remaja, kebutuhan protein lebih besar pada remaja
laki-laki, karena perbedaan komposisi tubuh. Kecukupan protein harus memenuhi
12 – 14 % dari pemasukan energi. Bila pemasukan energi tidak adekuat, maka
protein akan di gunakan sebagai sumber energi dan ini akan emngakibatkan
malnutrisi. Oleh karena itu anak – anak yang masih dalam masa pertumbuhan
membutuhkan lebih banyak protein dari pada usia lanjut. Kurang kalori protein
(KKP) sering diderita oleh anak dengan tanda-tanda perut buncit, rambut kering,
mudah rontok, cengeng, nafsu makan berkurang, bengkak-bengkak tubuh dan
bersikap acuh tak acuh.
Protein
merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Protein merupakan
bagian dari semua sel-sel hidup. Seperlima dari berat tubuh orang dewasa
merupakan protein. Hampir setengah jumlah protein terdapat di otot, seperlima
terdapat di tulang atau tulang rawan, sepersepuluh terdapat di kulit dan
sisanya terdapat di jaringan yang lain dan cairan tubuh. Semua enzim merupakan
protein. Banyak hormon juga protein atau turunan protein. Hanya urin dan empedu
dalam kondisi normal tidak mengandung protein.
Protein
mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1. Membentuk
jaringan baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh
2. Memelihara
jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang aus, rusak atau mati
3. Menyediakan
asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme
serta antibodi yang diperlukan
4. Mengatur
keseimbangan air yang terdapat dalam tiga kompartemen yaitu intraseluler,
ekstraseluler dan intravaskuler
5. Mempertahankan
kenetralan (asam-basa) tubuh.
E. Mineral
Kebutuhan
mineral tertutama kalsium, zinc dan zat besi juga meningkat pada masa remaja.
Kalsium penting untuk kesehatan tulang, khususnya dalam menambah massa tulang.
Keterbatasan massa tulang selama remaja akan meningkatkan risiko osteoporosis
pada kehidupan selanjutnya, khususnya pada wanita. Sumber kalsium yang paling
baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber yang lain adalah ikan,
kacang-kacangan dan sayuran.
Karena
ekspansi volume darah dan untuk mempertahankan produksi hemoglobin selama
pertumbuhan, maka kebutuhan akan zat besi pada remaja juga meningkat. Zat besi
juga di butuhkan untuk membentuk hemoglobin dalam jaringan otot yang baru.
Untuk mengganti kehilangan zat besi selama menstruasi, remaja perempuan lebih
banyak membutuhkan zat besi di bandingkan dengan remaja laki-laki. Remaja
laki-laki membutuhkan zat besi untuk proses pertumbuhan itu sendiri. Kekurangan
zat besi akan meningkatkan resiko terkenan anemia defisiensi zat besi.
Kebutuhan akan zat besi akan menurun seiring dengan melambatnya pertumbuhan
setelah pubertas. Penyerapan zat besi dapat di tingkatkan oleh vitamin C dan
sebaliknya dihambat oleh kopi, teh, makanan tinggi serat, suplemen kalsium, dan
produksi susu. Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah hati, daging
merah, daging putih, kacang-kacangan dan sayuran hijau.
Zinc
di butuhkan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja, terutama bagi
remaja laki-laki. Defisiensi Zinc dapat menimbulkan resiko retardasi mental dan
hipogonadisme.
Fungsi
mineral secara umum adalah :
1. Memelihara keseimbangan asam tubuh dengan
jalan penggunaan mineral pembentuk asam dan mineral pembentuk basa.
2. Mengkatalisasi
reaksi yang bertalian dengan pemecahan karbohidrat, lemak, protein serta
pembentukan lemak dan protein tubuh.
3. Sebagai
hormon (Iodium terlibat dalam hormon tiroksin, Co dalam vitamin B12, Ca dan P
untuk pembentukan tulang dan gigi) dan enzim tubuh (Fe terlibat dalam aktifitas
enzim katalase dan sitokrom).
4. Membantu
memelihara keseimbangan air tubuh.
5. Menolong
dalam pengiriman isyarat-isyarat keseluruh tubuh.
6. Sebagai
bahan cairan usus
7. Berperan
dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, gigi dan jaringan tubuh lain
F. Vitamin
Kebutuhan
vitamin tiamin, ribovlafin dan niasin pada remaja akan meningkat. Zat-zat
tersebut diperlukan untuk membantu proses metabolisme energi. Begitu juga
dengan folat dan vitamin B12 yang penting untuk sintesis DNA dan RNA. Tak kalah
pentingnya adalah vitamin D yang di butuhkan untuk mendukung pertumbuhan otot
dan tulang. Vitamin A, C, dan E juga di butuhkan untuk pembentukan dan
mendukung fungsi sel baru.
Kekurangan
vitamin pada remaja dapat menimbulkan masalah kesehatan dan pertumbuhan
fisiknya, seperti :
1. Gejala
buta senja, tidak tahan terhadap cahaya
2. Terkena
Rakhitis
3. Berkurangnya
imunitas tubuh terhadap penyakit.
Gangguan
kesehatan karena kekurangan vitamin di sebut avitaminosis. Avitaminosis
termasuk penyakit defisiensi. Penyebab avitaminosis antara lain:
1. Vitamin
yang masuk dalam tubuh cukup banyak, tetapi karena gangguan dalam penyerapan
vitamin maka tubuh kita akan kekurangan vitamin juga.
2. Karena
fungsi usus tidak normal, misalnya karena mencret maka vitamin tidak dapat
diserap oleh usus.
3. Karena
pengaruh obat-obatan yang di pakai, misalnya obat sulfa maka bakteri usus akan
musnah, sehingga tubuh akan kekurangan vitamin.
B. Pengkajian status gizi
Pengkajian
status gizi selama remaja perlu dilakukan. Pada periode ini, kecenderungan
resiko terjadinya gangguan gizi sangat tinggi, contohnya obesitas dan anoreksia
nervosa. Salah satu cara sederhana yang dapat di gunakan untuk menentukan
status gizi pada remaja adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) atau
Body Mass Index (BMI). IMT dapat membantu untuk mengidentifikasi remaja yang
secara signifikan berisiko mengalami kelebihan berat badan. Rumus perhitungan
IMT adalah sebagai berikut :
Hasil
dari rumus di atas kemudian dicocokkan dengan grafik pertumbuhan sesuai dengan
usia dan jenis kelamin untuk mengetahui termasuk kedalam kategori mana status
gizinya. Berikut adalah kategori-kategori status gizi :
- Gizi
kurang : IMT di bawah 5 %
- Gizi
Normal : IMT dari 5 % – 85 %
- Gizi
lebih : IMT 85 % – 95 %
- Obesitas : IMT lebih dari 95 %
Yang
perlu di sadari oleh remaja adalah bila berat badan normal, maka akan
mendapatkan banyak keuntungan seperti penampilan yang baik, lincah dan rendah
resikonya untuk terkena penyakit. Sebaliknya bila berat badan kurang atau
berlebih, maka akan lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit dan dapat
mempengaruhi fase kehidupan selanjutnya.
C. Perilaku Makan Remaja
Di
bandingkan segmen usia yang lain, diet yang tidak adekuat adalah masalah yang
paling umum di alami oleh remaja putri. Gizi yang tidak adekuat akan
menimbulkan masalah kesehatan yang akan mengikuti sepanjang kehidupan.
Kekurangan gizi selama remaja dapat di sebabkan oleh bermacam-macam faktor,
termasuk emosi yang tidak stabil, keinginan untuk menjadi kurus yang tidak
tepat dan ketidak stabilan dalam gaya hidup dan lingkungan sosial secara umum.
Berikut
ini beberapa perilaku spesifik yang umumnya dipercaya menyebabkan masalah gizi
pada remaja adalah :
- Melewatkan
waktu makan satu kali atau lebih setiap hari
- Pemilihan
makanan selingan yang kurang tepat
- Kurangnya
supevisi dalam memilih makanan di luar rumah
- Takut
mengalami obesitas, khususnya pada remaja putri
- Perhatian
terhadap makanan tertentu yang menyebabkan jerawat
- Kurangnya
waktu untuk mengkonsumsi secara teratur
- Kurang
di dampingi ketika mengkonsumsi makanan tertentu
- Tidak
minum susu
- Mulai
mengkonsumsi alkohol
- Makanan
siap saji
Makanan siap saji sudah menjadi tren di
kalangan remaja perkotaan. Selain menjadi tempat makan, restoran siap saji juga
menjadi tempat kumpul favorit dengan teman. Yang menjadi masalah pada restoran
siap saji adalah jumlah menu yang terbatas dan makanannya relatif mengandung
kadar lemak dan garam yang tinggi. Minuman yang tersedia juga menambah asupan
kalori yang tinggi pada remaja. Dengan demikian remaja sering kali mengkonsumsi
makanan siap saji cenderung mengalami kelebihan berat badan.
- Alkohol
Remaja mudah di pengaruhi oleh
lingkungan di sekitarnya, termasuk lingkungan pergaulan. Lingkungan yang tidak
sehat akan membawa remaja kearah yang negatif pula. Selain hal tersebut, sifat
remaja yang ingin coba-coba dan menunjukkan jati diri membuat remaja rawan
terjerumus ke dalam hal-hal yang bersifat negatif. Salah satunya adalah dengan
mencoba meminum minuman berkadar alkohol yang tinggi. Konsumsi alkohol pada
remaja akan menimbulkan masalah gizi dan masalah sosial. Minuman beralkohol
hanya berkontribusi pada energi saja. Alkohol juga memengaruhi penyerapan zinc
dan folat, dua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang normal
D. Masalah gizi pada remaja
Remaja
merupakan masa di mana seseorang mengalami perkembangan untuk mencapai
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Banyak persoalan yang di hadapi
para remaja yang berkaitan dengan masalah gizi. Masalah-masalah gizi dan
kesehatan yang di hadapi remaja tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain
dan diperlukan penanganan yang terpadu dan menyeluruh. Adapun masalah-masalah
gizi yang biasa di hadapai pada masa anak remaja adalah :
1. Obesitas
Walaupun
kebutuhan energi dan zat-zat gizi lebih besar pada remaja daripada dewasa,
tetapi ada sebagian remaja yang makannya terlalu banyak melebihi kebutuhannya
sehingga menjadi gemuk. Aktif berolah raga dan melakukan pengaturan makan
adalah cara untuk menurunkan berat badan. Diet tinggi serat sangat sesuai untuk
para remaja yang sedang melakukan penurunan berat badan. Pada umumnya makanan
yang serat tinggi mengandung sedikit energi, dengan demikian dapat membantu
menurunkan berat badan, disamping itu serat dapat menimbulkan rasa kenyang
sehingga dapat menghindari ngemil makanan/kue-kue.
2. Kurang
Energi Kronis
Pada
remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis tidak selalu berupa akibat
terlalu banyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya adalah karena makan
terlalu sedikit. Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis
erat hubungannya dengan faktor emosional seperti takut gemuk seperti ibunya
atau dipandang lawan jenis kurang seksi.
3. Anemia
Anemia
karena kurang zat besi adalah masalah yang paling umum dijumpai terutama pada
perempuan. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah, dikonversi
menjadi hemoglobin, beredar ke seluruh jaringan tubuh, berfungsi sebagai
pembawa oksigen.
Remaja
perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi daripada laki-laki. Agar zat besi
yang diabsorbsi lebih banyak tersedia oleh tubuh, maka diperlukan bahan makanan
yang berkualitas tinggi. Seperti pada daging, hati, ikan, ayam, selain itu
bahan maknan yang tinggi vitamin C membantu penyerapan zat besi.
Remaja
putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita anemia. Anemia adalah
suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dan eritrosit lebih rendah dari normal.
Pada laki-laki hemoglobin normal adalah 14 – 18 gr % dan eritrosit 4,5 -5,5
jt/mm3. Sedangkan pada perempuan hemoglobin normal adalah 12 – 16 gr % dengan
eritrosit 3,5 – 4,5 jt/mm3.
Remaja
putri lebih mudah terserang anemia karena :
o
Pada umunya lebih banyak mengkonsumsi
makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan
hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi.
o
Remaja putri biasanya ingin tampil
langsing, sehingga membatasi asupan makanan.
o
Setiap hari manusia kehilangan zat besi
0,6 mg yang diekskresi, khususnya melalui feses.
o
Remaja putri mengalami haid setiap
bulan, di mana kehilangan zat besi ± 1,3 mg perhari, sehingga kebutuhan zat
besi lebih banyak dari pada pria.
E. Penanganan gizi remaja
1. Obesitas
a. Modifikasi
diet
Penanganan
obesitas mempunyai beberapa cara tatalaksana diet. Bila anak berumur >7
tahun, IMT pada 85-95 persentil, tanpa penyakit penyerta, maka direkomendasikan
untuk mempertahankan berat badan dalam jangka waktu yang lama untuk merubah
IMT, tetapi bila mempunyai penyakit penyerta maka berat badannya harus
diturunkan. Sedangkan pada anak > 7 tahun dengan nilai IMTnya > 95
persentil, mempunyai maupun tidak mempunyai penyakit penyerta, maka kelebihan
berat badan anak tersebut harus diturunkan secara bertahap.
b. Diet
dengan kalori sangat rendah
Diet
ini diterapkan pada anak dan remaja yang obesitas yang disertai penyakit
penyerta dan tidak memberkan respons terhadap anjuran diet diatas. Tujuan pemberian
diet sangat rendah kalori ini adalah jika berat badannya >140% BB ideal
(superobes). Protein hewani dianjurkan dikonsumsi 1,5-2,5 g/kg BB ideal, minum
lebih dari 1,5 L cairan per hari, suplementasi vitamin dan mineral. Diet ini
hanya boleh diterapkan selama 12 minggu dengan pengawasan dokter. Pemberian
diet cara ini mempunyai efek samping yaitu: terbentuknya batu empedu, diare,
kekurangan protein, tekanan darah rendah.
c. Latihan
fisik
Latihan
fisik dimaksudkan untuk mengurangi gaya hidup sedentari dan meningkatkan
penggunaan energi untuk mengeluarkan kalori., meningkatkan masa muskuler, dan
membantu mengkontrol berat badan. Latihan fisik perlu dilakukan secara teratur,
selama 30-60 menit per hari. Latihan fisik saja jarang membawa keberhasilan
dalam menurunkan berat badan, tetapi lathan fisik dikombinasikan dengan diet
dapat merupakan cara untuk meningkatkan gaya hidup sehat dan rasa harga diri.
2. Anemia
a. Promosi
atau kampanye
Promosi
atau ,kampanye tentang anemia kepada masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan
penyuluhan kelompok serta konseling yang ditujukan secara langsung pada Remaja
Putri/Wanita melalui wadah yang sudah ada di masyarakat seperti sekolah,
pesantren, tempat kerja (formal/informal), organisasi dan LSM bidang
kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita.Anjuran konsumsi makanan kaya besi
dilaksanakan dengan mengacu pada gizi seimbang, diikuti dengan pembinaan kantin
di sekolah atau penjaja makanan di sekitar remaja/wanita berkumpul.
3. Kurang Energi Kronis (KEK)
a. Pencegahan KEK
Makan
makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk
makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang
mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu
sekurang-kurangnya sehari sekali.
b. Penanganan KEK
Meningkatkan
program penyuluhan tentang gizi seimbang dan bagi remaja lebih meningkatkan
konsumsi makanan yang mengandung sumber zat besi seperti sayuran hijau potein
hewani(susu, daging,telur) dan penambahan suplemen zat besi sebaiknya juga
memperhatikan gizi dan pola makan sehari-harinya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kebutuhan
gizi pada anak remaja lebih tinggi di bandingkan usia anak kecil. Namun
kebutuhan gizi pada remaja laki-laki dengan remaja perempuan tentu
berbeda. Hal ini di sebabkan oleh adanya
pertumbuhan yang pesat, kematangan seksual, perubahan komposisi tubuh,
mineralisasi tulang dan perubahan aktivitas fisik. Meskipun aktivitas fisik
tidak meningkat, tetapi total kebutuhan energi akan tetap meningkat akibat
pembesaran ukuran tubuh.
Pengkajian
status gizi selama remaja perlu dilakukan. Pada periode ini, kecenderungan
resiko terjadinya gangguan gizi sangat tinggi, contohnya obesitas dan anoreksia
nervosa. Salah satu cara sederhana yang dapat di gunakan untuk menentukan status
gizi pada remaja adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass
Index (BMI). IMT dapat membantu untuk mengidentifikasi remaja yang secara
signifikan berisiko mengalami kelebihan berat badan.
Remaja
merupakan masa di mana seseorang mengalami perkembangan untuk mencapai
kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Banyak persoalan yang di hadapi
para remaja yang berkaitan dengan masalah gizi. Masalah-masalah gizi dan
kesehatan yang di hadapi remaja tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain
dan diperlukan penanganan yang terpadu dan menyeluruh.
B. Saran
1. Perlu
dilakukan penyuluhan secara terjadwal mengenai makanan dan kesehatan pada anak
sekolah yang mengalami obesitas sehingga dapat menurunkan berat badan sampai
mencapai normal.
2. Perlunya
peran sekolah dan orang tua remaja untuk memperhatikan pola makan dan kesehatan
seperti membudayakan makan buah dan sayuran dan mengurangi makanan pengolahannya menggunakan minyak atau
digoreng.
3. Perlunya
kerjasama yang berkesinambungan antara sekolah ,dinas kesehatan untuk
meningkatkan peran UKS sehingga masalah kesehatan seperti obes dan underweight
(KEK) dapat diatasi secara bertahap.
4. Perlu
penelitian lebih lanjut apakah penurunan berat badan ini semata karena
penyuluhan mengenai makanan atau ada faktor lain seperti aktifitas
fisik,genetik dan sebagainya.
DATA PENELITIAN SISWI
SMAN TOHO
Kajian
susenas menunjukkan bahwa proporsi Wanita Usia Subur
( WUS ) umur 15 - 49
tahun dengan Lingkar Lengan Atas ( LLA < 23,5 ) pada
tahun 2000 mencapai
21,5% ( Depkes, 2001 )4. Data profil dinas kesehatan
Kabupaten Pontianak,
menunjukkan persentase WUS berisiko KEK rata-rata
sebesar 15,8% pada
tahun 2003, dan meningkat menjadi 22,8% pada tahun
2004. Dari rerata data
tersebut persentase tertinggi terdapat di Kecamatan Toho
yaitu sebesar 46.5 % (
Dinkes Kab. Pontianak, 2004 ).
DATA
PENELITIAN KONSELING GIZI TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN REMAJA OVERWEIGHT DAN
OBES DIKOTA PALEMBANG

Dari hasil skrining pada 592 siswa-siswi terdapat 37
orang dengan status gizi obesitas, 56 orang overweight, 450 orang dengan status
gizi normal dan 49 orang dengan status gizi underweight.
Hasil skrining siswa yang obes ditemukan 30 orang
pada laki-laki dan 7 pada perempuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Poltekes Depkes I.
2009. “Kesehatan Remaja Problem dan Solusinya”. Jakarta. Salemba Medika.
Irianto, Kus. 2004. “
Gizi & Pola Hidup Sehat “. Bandung. Yrama Widya.
Yuniastuti, Ari. 2007.
“ Gizi dan Kesehatan “. Yogyakarta. Graha Ilmu.
www.wikipedia.org/gizi
di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.30 WIB
www.lusa.web.id>home
di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.43 WIB
www.rajawana.com./artikel/kesehatan/gizi-anak
di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.50 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar