Rabu, 13 Juni 2012

MASALAH GIZI REMAJA DAN PENANGANANNYA

MASALAH GIZI REMAJA DAN PENANGANANNYA
BAB I
PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang
Kata gizi berasal dari bahasa Arab “ghidza” yang berarti makanan. WHO mengartikan ilmu gizi sebagai Ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan cair dari makanan (proses pencernaan, transport dan ekskresi) yang di perlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya organ tubuh dan menghasilkan energi.
Anak remaja mempunyai kebutuhan nutrisi yang spesial, karena pada saat tersebut terjadi pertumbuhan yang pesat dan terjadi perubahan kematangan fisiologis sehubungan dengan timbulnya pubertas. Perubahan pada masa remaja akan mempengaruhi kebutuhan, absorbsi, serta cara penggunaan zat gizi. Hal ini di sertai dengan pembesaran organ dan jaringan tubuh yang cepat. Perubahan hormon yang menyertai pubertas juga menyebabkan banyak perubahan fisiologis yang memengaruhi kebutuhan gizi pada remaja.
Pertumbuhan yang pesat dan masa pubertas pada remaja tergantung pada berat dan komposisi tubuh seseorang. Ini menunjukkan bahwa status gizi memegang peranan penting dan menentukan status kematangan fisiologis seseorang. Status gizi di bawah normal atau adanya penyakit kronis dapat menghambat pubertas.
Pertumbuhan tinggi badan yang pesat di mulai pada usia 10 tahun; mencapai puncaknya pada usia 12 tahun pada anak perempuan, dan antara usia 12 – 14 tahun pada anak laki-laki. Penambahan berat badan yang pesat di mulai kira-kira 6 bulan setelahnya. Periode pertumbuhan yang cepat akan berakhir setelah 2,5 – 3 tahun. Jadi, periode kebutuhan gizi yang besar adalah pada remaja yang berusia antara 12 – 15 tahun pada laki-laki dan 10 – 13 tahun pada perempuan.
Kecepatan petumbuhan dan kebutuhan gizi bervariasi pada masing-masing individu remaja.  Ini menunjukkan bahwa di bandingkan usia, tingkat kematangan seksual yang didasarkan pada munculnya tanda seksual sekunder lebih mempunyai makna sebagai indikator dalam menentukan kebutuhan gizi.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah Pengaruhnya kebutuhan gizi terhadap perkembangan remaja?
2.      Apakah pertumbuhan fisik dapat berkembang dengan baik ketika kebutuhan gizi dapat terpenuhi?
3.      Apa penyebab status gizi tidak normal pada remaja?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui status gizi menginjak usia remaja.
2.      Pengaruh kebutuhan gizi terhadap perkembangan remaja.
3.      Pengaruh kebutuhan gizi terhadap pertumbuhan fisik remaja.
4.      Mengetahui penanganan status gizi pada remaja.



BAB II
PEMBAHASAN

A.   Kebutuhan Gizi Pada Anak Remaja
Kebutuhan gizi pada anak remaja lebih tinggi di bandingkan usia anak kecil. Namun kebutuhan gizi pada remaja laki-laki dengan remaja perempuan tentu berbeda.  Hal ini di sebabkan oleh adanya pertumbuhan yang pesat, kematangan seksual, perubahan komposisi tubuh, mineralisasi tulang dan perubahan aktivitas fisik. Meskipun aktivitas fisik tidak meningkat, tetapi total kebutuhan energi akan tetap meningkat akibat pembesaran ukuran tubuh. Kebutuhan nutrisi yang meningkat pada masa anak remaja adalah energi, kalsium, besi dan zinc.
A.     Energy
Kebutuhan energy pada individu remaja yang sedang tumbuh sulit untuk ditentukan secara tepat. Faktor yang perlu di perhatikan untuk menentukan kebutuhan gizi remaja adalah aktivitas fisik seperti olahraga. Remaja yang aktif dan banyak melakukan olahraga memerlukan asupan energi yang lebih besar di bandingkan dengan remaja yang kurang aktif berolahraga.
Energi yang di gunakan untuk melakukan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari di dapat oleh tubuh dari energi yang di lepaskan di dalam tubuh pada proses pembakaran zat makanan. Akan tetapi kita tidak memperoleh seluruh energi makanan yang kita makan, karena tidak semua energi yang terkandung di dalam makanan dapat diubah oleh tubuh menjadi energi kerja.
Dalam proses metabolisme tubuh, energi makanan hanya sebagian di ubah ke dalam enrgi kerja, sedangkan sebagian lagi diubah menjadi panas. Dengan demikian dapat di mengerti bila habis makan atau tidak melakukan kerja, sehu badan akan meningkat. Di dalam tubuh ada tiga golongan zat makanan yang dapat di oksidasi untuk mendapatkan energi yaitu karbohidrat, lemak dan protein.


B.     Karbohidrat
Karbohidrat adalah zat organik yang mengandung unsur karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) dengan rumus molekulnya CH2O. Karbohidrat merupakan unit gula individual atau rantai unit gula yang menyatu. Karbohidrat merupakan senyawa hasil fotosintesis tumbuhan hijau melalui reaksi berikut :
nCO2 (karbondiokasida) + H2O (air) à Cn(H2O)x (karbohidrat) + nO2 (oksigen).Selain sebagai sumber energi utama, karbohidrat berfungsi sebagai berikut :
1.      Sumber energi dengan fungsi utamanya adalah menyediakan energi bagi tubuh. Satu gram karbohidrat mengahsilkan 4 kkal.
2.      Pemberi rasa manis pada makanan. Rasa manis ini akan terasa bila kita memakan nasi dengan mengunyah beberapa kali.
3.      Penghemat protein. Bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun.
4.      Pengatur metabolisme lemak. Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna.


C.     Lemak
Lemak merupakan simpanan energi bagi manusia dan hewan. Lemak merupakan senyawa organik yang mengandung unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Dalam lemak, oksigen lebih sedikit dari pada yang terdapat pda kebohidrat. Itulah sebabnya pada waktu pembakaran, lemak mengikat lebih banyak oksigen sehingga panas yang di hasilkan lebih banyak. Lemak yang disimpan di bawah kulit merupakan persediaan energi jangka panjang dan merupakan insulin dalam tubuh. Lemak merupakan bahan penting dalam membran sel dan sifatnya tidak dapat larut dalam air. Setiap 1 gram lemak menghasilkan 9 kkal.
Lemak mempunyai fungsi yang cukup banyak, lemak yang terdapat dalam bahan makanan berfungsi sebagai :
1.      Sumber energi, dimana tiap 1 gram lemak menghasilkan sekitar 9 kkal.
2.      Menghemat protein dan thiamin.
3.      Membuat rasa kenyang lebih lama, sehubungan dengan dicernanya lemak lebih lama.
4.      Pemberi cita rasa dan keharuman yang lebih.
5.      Memberi zat gizi lain yang di butuhkan tubuh.
Sedangkan fungsi lemak dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai pembangun/pembentuk susunan tubuh
2.      Pelindung kehilangan panas tubuh
3.      Sebagai penghasil asam lemak esensial
4.      Sebagai pelarut vitamin A,D,E,K
5.      Sebagai pelumas di antara persendian
6.      Sebagai agen pengemulsi yang akan mempermudah transpor substansi lemak keluar masuk melalui membran sel
7.      Sebagai prekursor dari prostaglandin yang berperan mengatur takanan darah, denyut jantung dan lipolisis.

D.    Protein
Protein juga meningkat pada masa remaja, karena proses pertumbuhan tarjadi dengan cepat. Pada akhir masa remaja, kebutuhan protein lebih besar pada remaja laki-laki, karena perbedaan komposisi tubuh. Kecukupan protein harus memenuhi 12 – 14 % dari pemasukan energi. Bila pemasukan energi tidak adekuat, maka protein akan di gunakan sebagai sumber energi dan ini akan emngakibatkan malnutrisi. Oleh karena itu anak – anak yang masih dalam masa pertumbuhan membutuhkan lebih banyak protein dari pada usia lanjut. Kurang kalori protein (KKP) sering diderita oleh anak dengan tanda-tanda perut buncit, rambut kering, mudah rontok, cengeng, nafsu makan berkurang, bengkak-bengkak tubuh dan bersikap acuh tak acuh.
Protein merupakan zat gizi yang paling banyak terdapat dalam tubuh. Protein merupakan bagian dari semua sel-sel hidup. Seperlima dari berat tubuh orang dewasa merupakan protein. Hampir setengah jumlah protein terdapat di otot, seperlima terdapat di tulang atau tulang rawan, sepersepuluh terdapat di kulit dan sisanya terdapat di jaringan yang lain dan cairan tubuh. Semua enzim merupakan protein. Banyak hormon juga protein atau turunan protein. Hanya urin dan empedu dalam kondisi normal tidak mengandung protein.
Protein mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1.      Membentuk jaringan baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh
2.      Memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang aus, rusak atau mati
3.      Menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolisme serta antibodi yang diperlukan
4.      Mengatur keseimbangan air yang terdapat dalam tiga kompartemen yaitu intraseluler, ekstraseluler dan intravaskuler
5.      Mempertahankan kenetralan (asam-basa) tubuh.

E.     Mineral
Kebutuhan mineral tertutama kalsium, zinc dan zat besi juga meningkat pada masa remaja. Kalsium penting untuk kesehatan tulang, khususnya dalam menambah massa tulang. Keterbatasan massa tulang selama remaja akan meningkatkan risiko osteoporosis pada kehidupan selanjutnya, khususnya pada wanita. Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber yang lain adalah ikan, kacang-kacangan dan sayuran.
Karena ekspansi volume darah dan untuk mempertahankan produksi hemoglobin selama pertumbuhan, maka kebutuhan akan zat besi pada remaja juga meningkat. Zat besi juga di butuhkan untuk membentuk hemoglobin dalam jaringan otot yang baru. Untuk mengganti kehilangan zat besi selama menstruasi, remaja perempuan lebih banyak membutuhkan zat besi di bandingkan dengan remaja laki-laki. Remaja laki-laki membutuhkan zat besi untuk proses pertumbuhan itu sendiri. Kekurangan zat besi akan meningkatkan resiko terkenan anemia defisiensi zat besi. Kebutuhan akan zat besi akan menurun seiring dengan melambatnya pertumbuhan setelah pubertas. Penyerapan zat besi dapat di tingkatkan oleh vitamin C dan sebaliknya dihambat oleh kopi, teh, makanan tinggi serat, suplemen kalsium, dan produksi susu. Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah hati, daging merah, daging putih, kacang-kacangan dan sayuran hijau.
Zinc di butuhkan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja, terutama bagi remaja laki-laki. Defisiensi Zinc dapat menimbulkan resiko retardasi mental dan hipogonadisme.
Fungsi mineral secara umum adalah :
1.       Memelihara keseimbangan asam tubuh dengan jalan penggunaan mineral pembentuk asam dan mineral pembentuk basa.
2.      Mengkatalisasi reaksi yang bertalian dengan pemecahan karbohidrat, lemak, protein serta pembentukan lemak dan protein tubuh.
3.      Sebagai hormon (Iodium terlibat dalam hormon tiroksin, Co dalam vitamin B12, Ca dan P untuk pembentukan tulang dan gigi) dan enzim tubuh (Fe terlibat dalam aktifitas enzim katalase dan sitokrom).
4.      Membantu memelihara keseimbangan air tubuh.
5.      Menolong dalam pengiriman isyarat-isyarat keseluruh tubuh.
6.      Sebagai bahan cairan usus
7.      Berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, gigi dan jaringan tubuh lain

F.     Vitamin
Kebutuhan vitamin tiamin, ribovlafin dan niasin pada remaja akan meningkat. Zat-zat tersebut diperlukan untuk membantu proses metabolisme energi. Begitu juga dengan folat dan vitamin B12 yang penting untuk sintesis DNA dan RNA. Tak kalah pentingnya adalah vitamin D yang di butuhkan untuk mendukung pertumbuhan otot dan tulang. Vitamin A, C, dan E juga di butuhkan untuk pembentukan dan mendukung fungsi sel baru.
Kekurangan vitamin pada remaja dapat menimbulkan masalah kesehatan dan pertumbuhan fisiknya, seperti :
1.      Gejala buta senja, tidak tahan terhadap cahaya
2.      Terkena Rakhitis
3.      Berkurangnya imunitas tubuh terhadap penyakit.
Gangguan kesehatan karena kekurangan vitamin di sebut avitaminosis. Avitaminosis termasuk penyakit defisiensi. Penyebab avitaminosis antara lain:
1.      Vitamin yang masuk dalam tubuh cukup banyak, tetapi karena gangguan dalam penyerapan vitamin maka tubuh kita akan kekurangan vitamin juga.
2.      Karena fungsi usus tidak normal, misalnya karena mencret maka vitamin tidak dapat diserap oleh usus.
3.      Karena pengaruh obat-obatan yang di pakai, misalnya obat sulfa maka bakteri usus akan musnah, sehingga tubuh akan kekurangan vitamin.

B.   Pengkajian status gizi
Pengkajian status gizi selama remaja perlu dilakukan. Pada periode ini, kecenderungan resiko terjadinya gangguan gizi sangat tinggi, contohnya obesitas dan anoreksia nervosa. Salah satu cara sederhana yang dapat di gunakan untuk menentukan status gizi pada remaja adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). IMT dapat membantu untuk mengidentifikasi remaja yang secara signifikan berisiko mengalami kelebihan berat badan. Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut :
Hasil dari rumus di atas kemudian dicocokkan dengan grafik pertumbuhan sesuai dengan usia dan jenis kelamin untuk mengetahui termasuk kedalam kategori mana status gizinya. Berikut adalah kategori-kategori status gizi :
-       Gizi kurang       : IMT di bawah 5 %
-       Gizi Normal      : IMT dari 5 % – 85 %
-       Gizi lebih          : IMT 85 %  – 95 %
-       Obesitas           : IMT lebih dari 95 %
Yang perlu di sadari oleh remaja adalah bila berat badan normal, maka akan mendapatkan banyak keuntungan seperti penampilan yang baik, lincah dan rendah resikonya untuk terkena penyakit. Sebaliknya bila berat badan kurang atau berlebih, maka akan lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit dan dapat mempengaruhi fase kehidupan selanjutnya.

C.   Perilaku Makan Remaja
Di bandingkan segmen usia yang lain, diet yang tidak adekuat adalah masalah yang paling umum di alami oleh remaja putri. Gizi yang tidak adekuat akan menimbulkan masalah kesehatan yang akan mengikuti sepanjang kehidupan. Kekurangan gizi selama remaja dapat di sebabkan oleh bermacam-macam faktor, termasuk emosi yang tidak stabil, keinginan untuk menjadi kurus yang tidak tepat dan ketidak stabilan dalam gaya hidup dan lingkungan sosial secara umum.
Berikut ini beberapa perilaku spesifik yang umumnya dipercaya menyebabkan masalah gizi pada remaja adalah :
-       Melewatkan waktu makan satu kali atau lebih setiap hari
-       Pemilihan makanan selingan yang kurang tepat
-       Kurangnya supevisi dalam memilih makanan di luar rumah
-       Takut mengalami obesitas, khususnya pada remaja putri
-       Perhatian terhadap makanan tertentu yang menyebabkan jerawat
-       Kurangnya waktu untuk mengkonsumsi secara teratur
-       Kurang di dampingi ketika mengkonsumsi makanan tertentu
-       Tidak minum susu
-       Mulai mengkonsumsi alkohol
-       Makanan siap saji
Makanan siap saji sudah menjadi tren di kalangan remaja perkotaan. Selain menjadi tempat makan, restoran siap saji juga menjadi tempat kumpul favorit dengan teman. Yang menjadi masalah pada restoran siap saji adalah jumlah menu yang terbatas dan makanannya relatif mengandung kadar lemak dan garam yang tinggi. Minuman yang tersedia juga menambah asupan kalori yang tinggi pada remaja. Dengan demikian remaja sering kali mengkonsumsi makanan siap saji cenderung mengalami kelebihan berat badan.
-       Alkohol
Remaja mudah di pengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, termasuk lingkungan pergaulan. Lingkungan yang tidak sehat akan membawa remaja kearah yang negatif pula. Selain hal tersebut, sifat remaja yang ingin coba-coba dan menunjukkan jati diri membuat remaja rawan terjerumus ke dalam hal-hal yang bersifat negatif. Salah satunya adalah dengan mencoba meminum minuman berkadar alkohol yang tinggi. Konsumsi alkohol pada remaja akan menimbulkan masalah gizi dan masalah sosial. Minuman beralkohol hanya berkontribusi pada energi saja. Alkohol juga memengaruhi penyerapan zinc dan folat, dua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang normal

D.   Masalah gizi pada remaja
Remaja merupakan masa di mana seseorang mengalami perkembangan untuk mencapai kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Banyak persoalan yang di hadapi para remaja yang berkaitan dengan masalah gizi. Masalah-masalah gizi dan kesehatan yang di hadapi remaja tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain dan diperlukan penanganan yang terpadu dan menyeluruh. Adapun masalah-masalah gizi yang biasa di hadapai pada masa anak remaja adalah :
1.      Obesitas
Walaupun kebutuhan energi dan zat-zat gizi lebih besar pada remaja daripada dewasa, tetapi ada sebagian remaja yang makannya terlalu banyak melebihi kebutuhannya sehingga menjadi gemuk. Aktif berolah raga dan melakukan pengaturan makan adalah cara untuk menurunkan berat badan. Diet tinggi serat sangat sesuai untuk para remaja yang sedang melakukan penurunan berat badan. Pada umumnya makanan yang serat tinggi mengandung sedikit energi, dengan demikian dapat membantu menurunkan berat badan, disamping itu serat dapat menimbulkan rasa kenyang sehingga dapat menghindari ngemil makanan/kue-kue.

2.      Kurang Energi Kronis
Pada remaja badan kurus atau disebut Kurang Energi Kronis tidak selalu berupa akibat terlalu banyak olah raga atau aktivitas fisik. Pada umumnya adalah karena makan terlalu sedikit. Remaja perempuan yang menurunkan berat badan secara drastis erat hubungannya dengan faktor emosional seperti takut gemuk seperti ibunya atau dipandang lawan jenis kurang seksi.
3.      Anemia
Anemia karena kurang zat besi adalah masalah yang paling umum dijumpai terutama pada perempuan. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah, dikonversi menjadi hemoglobin, beredar ke seluruh jaringan tubuh, berfungsi sebagai pembawa oksigen.
Remaja perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi daripada laki-laki. Agar zat besi yang diabsorbsi lebih banyak tersedia oleh tubuh, maka diperlukan bahan makanan yang berkualitas tinggi. Seperti pada daging, hati, ikan, ayam, selain itu bahan maknan yang tinggi vitamin C membantu penyerapan zat besi.
Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita anemia. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dan eritrosit lebih rendah dari normal. Pada laki-laki hemoglobin normal adalah 14 – 18 gr % dan eritrosit 4,5 -5,5 jt/mm3. Sedangkan pada perempuan hemoglobin normal adalah 12 – 16 gr % dengan eritrosit 3,5 – 4,5 jt/mm3.
Remaja putri lebih mudah terserang anemia karena :
o   Pada umunya lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi.
o   Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan makanan.
o   Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khususnya melalui feses.
o   Remaja putri mengalami haid setiap bulan, di mana kehilangan zat besi ± 1,3 mg perhari, sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak dari pada pria.

E.   Penanganan gizi remaja

1.      Obesitas
a.       Modifikasi diet
Penanganan obesitas mempunyai beberapa cara tatalaksana diet. Bila anak berumur >7 tahun, IMT pada 85-95 persentil, tanpa penyakit penyerta, maka direkomendasikan untuk mempertahankan berat badan dalam jangka waktu yang lama untuk merubah IMT, tetapi bila mempunyai penyakit penyerta maka berat badannya harus diturunkan. Sedangkan pada anak > 7 tahun dengan nilai IMTnya > 95 persentil, mempunyai maupun tidak mempunyai penyakit penyerta, maka kelebihan berat badan anak tersebut harus diturunkan secara bertahap.

b.      Diet dengan kalori sangat rendah
Diet ini diterapkan pada anak dan remaja yang obesitas yang disertai penyakit penyerta dan tidak memberkan respons terhadap anjuran diet diatas. Tujuan pemberian diet sangat rendah kalori ini adalah jika berat badannya >140% BB ideal (superobes). Protein hewani dianjurkan dikonsumsi 1,5-2,5 g/kg BB ideal, minum lebih dari 1,5 L cairan per hari, suplementasi vitamin dan mineral. Diet ini hanya boleh diterapkan selama 12 minggu dengan pengawasan dokter. Pemberian diet cara ini mempunyai efek samping yaitu: terbentuknya batu empedu, diare, kekurangan protein, tekanan darah rendah.
c.       Latihan fisik
Latihan fisik dimaksudkan untuk mengurangi gaya hidup sedentari dan meningkatkan penggunaan energi untuk mengeluarkan kalori., meningkatkan masa muskuler, dan membantu mengkontrol berat badan. Latihan fisik perlu dilakukan secara teratur, selama 30-60 menit per hari. Latihan fisik saja jarang membawa keberhasilan dalam menurunkan berat badan, tetapi lathan fisik dikombinasikan dengan diet dapat merupakan cara untuk meningkatkan gaya hidup sehat dan rasa harga diri.
2.  Anemia
a.       Promosi atau kampanye
Promosi atau ,kampanye tentang anemia kepada masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan penyuluhan kelompok serta konseling yang ditujukan secara langsung pada Remaja Putri/Wanita melalui wadah yang sudah ada di masyarakat seperti sekolah, pesantren, tempat kerja (formal/informal), organisasi dan LSM bidang kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita.Anjuran konsumsi makanan kaya besi dilaksanakan dengan mengacu pada gizi seimbang, diikuti dengan pembinaan kantin di sekolah atau penjaja makanan di sekitar remaja/wanita berkumpul.
3.  Kurang Energi Kronis (KEK)
a.  Pencegahan KEK
Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali.

b.  Penanganan KEK
Meningkatkan program penyuluhan tentang gizi seimbang dan bagi remaja lebih meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung sumber zat besi seperti sayuran hijau potein hewani(susu, daging,telur) dan penambahan suplemen zat besi sebaiknya juga memperhatikan gizi dan pola makan sehari-harinya.
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Kebutuhan gizi pada anak remaja lebih tinggi di bandingkan usia anak kecil. Namun kebutuhan gizi pada remaja laki-laki dengan remaja perempuan tentu berbeda.  Hal ini di sebabkan oleh adanya pertumbuhan yang pesat, kematangan seksual, perubahan komposisi tubuh, mineralisasi tulang dan perubahan aktivitas fisik. Meskipun aktivitas fisik tidak meningkat, tetapi total kebutuhan energi akan tetap meningkat akibat pembesaran ukuran tubuh.
Pengkajian status gizi selama remaja perlu dilakukan. Pada periode ini, kecenderungan resiko terjadinya gangguan gizi sangat tinggi, contohnya obesitas dan anoreksia nervosa. Salah satu cara sederhana yang dapat di gunakan untuk menentukan status gizi pada remaja adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). IMT dapat membantu untuk mengidentifikasi remaja yang secara signifikan berisiko mengalami kelebihan berat badan.
Remaja merupakan masa di mana seseorang mengalami perkembangan untuk mencapai kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Banyak persoalan yang di hadapi para remaja yang berkaitan dengan masalah gizi. Masalah-masalah gizi dan kesehatan yang di hadapi remaja tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain dan diperlukan penanganan yang terpadu dan menyeluruh.

B.   Saran

1.      Perlu dilakukan penyuluhan secara terjadwal mengenai makanan dan kesehatan pada anak sekolah yang mengalami obesitas sehingga dapat menurunkan berat badan sampai mencapai normal.
2.      Perlunya peran sekolah dan orang tua remaja untuk memperhatikan pola makan dan kesehatan seperti membudayakan makan buah dan sayuran dan mengurangi  makanan pengolahannya menggunakan minyak atau digoreng.
3.      Perlunya kerjasama yang berkesinambungan antara sekolah ,dinas kesehatan untuk meningkatkan peran UKS sehingga masalah kesehatan seperti obes dan underweight (KEK) dapat diatasi secara bertahap.
4.      Perlu penelitian lebih lanjut apakah penurunan berat badan ini semata karena penyuluhan mengenai makanan atau ada faktor lain seperti aktifitas fisik,genetik dan sebagainya.



DATA PENELITIAN SISWI SMAN TOHO

Kajian susenas menunjukkan bahwa proporsi Wanita Usia Subur
( WUS ) umur 15 - 49 tahun dengan Lingkar Lengan Atas ( LLA < 23,5 ) pada
tahun 2000 mencapai 21,5% ( Depkes, 2001 )4. Data profil dinas kesehatan
Kabupaten Pontianak, menunjukkan persentase WUS berisiko KEK rata-rata
sebesar 15,8% pada tahun 2003, dan meningkat menjadi 22,8% pada tahun
2004. Dari rerata data tersebut persentase tertinggi terdapat di Kecamatan Toho
yaitu sebesar 46.5 % ( Dinkes Kab. Pontianak, 2004 ).

DATA PENELITIAN KONSELING GIZI TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN REMAJA OVERWEIGHT DAN OBES DIKOTA PALEMBANG

Dari hasil skrining pada 592 siswa-siswi terdapat 37 orang dengan status gizi obesitas, 56 orang overweight, 450 orang dengan status gizi normal dan 49 orang dengan status gizi underweight.
Hasil skrining siswa yang obes ditemukan 30 orang pada laki-laki dan 7 pada perempuan.

DAFTAR PUSTAKA

Poltekes Depkes I. 2009. “Kesehatan Remaja Problem dan Solusinya”. Jakarta. Salemba Medika.
Irianto, Kus. 2004. “ Gizi & Pola Hidup Sehat “. Bandung. Yrama Widya.
Yuniastuti, Ari. 2007. “ Gizi dan Kesehatan “. Yogyakarta. Graha Ilmu.
www.wikipedia.org/gizi di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.30 WIB
www.lusa.web.id>home di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.43 WIB
www.rajawana.com./artikel/kesehatan/gizi-anak di akses tanggal 05 Juni 2011 pukul 19.50 WIB












Tidak ada komentar:

Posting Komentar