Kamis, 17 Mei 2012

Kunjungan POSKESDES


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran mata kuliah Konsep Kebidanan bagi mahasiswa semester I Kelas Reguler dan Kelas Khusus Kab. Bengkayang jurusan kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, salah satu proses pembelajaran yang ditempuh adalah kegiatan praktikum dilapangan. Kegitan praktikum ini dilakukan dengan melaksanakan kunjungan ke Institusi Pelayan Kebidanan, antara lain Poskesdes, Bidan Praktik Swasta, dan rumah bersalin.
Kegiatan praktikum ini merupakan sarana yang dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan dasar-dasar pengetahuan serta kesempatan untuk menambah pengalaman secara langsung dalam rangka membentuk sikap bidan yang profesional sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti proses pembelajaran lebih lanjut.

B.   Tujuan
1.    Tujuan Umum
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa diharapkan mampu memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan konsep kebidanan dalam tatanan nyata di institusi pelayanan kebidanan.



2.    Tujuan Khusus
1.    Mahasiswa diharapkan mampu memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan pelayanan kebidanan yang profesional.
2.    Mengidentifikasi tenaga profesional sebagai pelaksana pelayanan kebidanan.
3.    Mengidentifikasi peran dan fungsi bidan sebagai pelaksana pelayanan kebidanan di institusi pelayanan kebidanan.
4.    Mengidentifikasi standar pelayan kebidanan yang dilaksanakan di institusi pelayanan kebidanan.
5.    Mengidentifikasi praktik pelayanan kebidanan secara primer,kolaborasi dan rujukan.
6.    Menyusun manajemen asuhan kebidanan sebagai metodologi pendekatan pemecahan masalah dalam bentuk laporan SOAP.
7.    Mengenal kode etik profesi bidan yang dilaksanakan dalam pelayanan kebidanan di institusi pelayanan kebidanan.
8.    Mengetahui sistem penghargaan bagi bidan dan perkembangan karier bidan.

3.    Manfaat Praktikum
1.    Memberikan pandangan bagaimana menjadi bidan yang profesional sebagai tenaga kesehatan sesuai dengan kode etik kebidanan yang berlaku.
2.    Mendapatkan informasi bagaimana menghadapi perkembangan zaman dalam pelayanan kebidanan.
3.    Dapat memahami kebudayaan dengan masyarakat setempat serta merangkul para tokoh masyaraakat,kader,dukun sehingga memudahkan dalam memberikan pelayanan.
4.    Mengetahui cara mengatasi berbagai macam masalah dalam menghadapi kondisi kegawat daruratan dalam pelayanan kebidanan.
5.    Dapat mengatur dan memanajemen waktu antara pekerjaan dan karier sebagai tenaga kesehatan dengan sebaik-baiknya sehingga tercapai suatu pelayanan yang maksimal atau sesuai yang kita harapkan.


BAB II
ISI

A.    Gambaran nyata tentang pelaksanaan pelayanan kebidanan yang profesional

Setelah melakukan interview dengan Bidan Dwi Rahmawati yang bekerja disebuah Poskesdes yang berada di Banyurejo,Sleman serta pengamatan langsung  ditempat kerja beliau,telah didapat berbagai informasi tentang penerapan ilmu Konsep Kebidanan.
Seperti hal nya pengertian bidan itu sendiri.Ia telah menyelesaikan pendidikan D III nya dan sekarang sudah bekerja yang sebelumnya telah mendapatkan ijin praktek dari pemerintah. Selama pengabdiannya menjadi seorang bidan sejak tahun 1997 hingga sekarang,ia telah berusaha untuk  memberikan pelayanan yang baik dan semaksimal mungkin agar pasien merasa puas dengan layanan yang diberikan.

B.     Identifikasi tenaga profesional sebagai pelaksana pelayanan kebidanan

Seorang pekerja profesional adalah seorang pekerja yang terampil atau cakap dalam kerjanya, yang dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilannya. Seseorang pekerja profesional dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilan yang menyangkut wawasan filosofi, pertimbangan rasional dan memiliki sikap yang positif dalam melaksanakan serta memperkembangkan mutu karyanya.
Tenaga profesional  yang terdapat di Poskesdes  Dwi Rahmawati :
1.    Bidan
Bidan utama di poskesdes desa Banyurejo adalah Dwi Rahmawati. Awalnya bidan Dwi Rahmawati hanya bekerja seorang diri, namun karena pada waktu itu beliau masih belum bersuami sehingga dalam pelaksanaan pelayanan khususnya di malam hari beliau mengalami kendala,maka dari itu beliau dibantu oleh seorang rekan wanita untuk mendampingi beliau melaksanakan pelayanan. Sedangkan pada siang hari beliau hanya ditemani seorang bidan PTT. Hingga akhirnya beliau bersuami, yang kemudian ikut berperan dalam mendampingi beliau melaksanakan pelayanan.
Bidan Dwi Rahmawati tidak bisa stand by 24 jam diposkesdes nya karena Bidan Dwi Rahmawati bekerja di dua tempat sekaligus,yakni di poskesdes dan puskesmas. Di Puskesmas beliau bekerja dari pukul 08.00-13.00, selebihnya beliau melayani di poskesdes .
2.    Kader
Dalam melaksanakan asuhan pelayanan bidan sehari-hari, Bidan Dwi Rahmawati dibantu oleh kader atau masyarakat sekitar. Kader melakukan tindakan seperti menimbang berat badan balita saat imunisasi,mengisi buku laporan imunisasi,membantu menyebarkan brosur kesehatan serta brosur kegiatan penyuluhan.
3.    Dukun beranak
Pada awal bidan Dwi Rahmawati bertugas di poskesdes tersebut,beliau mendekati tokoh masyarakat dan kader yang ada di desa tersebut. Tidak tertinggal dukun beranak. Beliau merangkul dukun beranak yang ada di desa tersebut untuk bekerjasama menangani partus karena beliau tahu bahwa beliau adalah pendatang dan tidak bisa merubah kebudayaan masyarakat  di daerah tersebut. Seiring berjalannya waktu, sang dukun menjadi ketergantungan dengan adanya bidan untuk menangani partus karena di nilai lebih baik dan steril dalam menangani partus. Hingga dari hari ke hari sang dukun lah yang sering merekomendasikan ke bidan Dwi Rahmawati jika ada partus.
Menurut bidan Dwi Rahmawati Syarat bidan sebagai jabatan professional, yaitu :
1.    Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis
2.    Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan
3.    Keberadaanya diakui dan diperlukan masyarakat
4.    Mempunyai peran dan fungsi yang jelas
5.    Mempunyai kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah
6.    Memiliki organisasi profesi sebagai wadah
7.    Memiliki kode etik bidan
8.    Memiliki etika bidan
9.    Memiliki standar pelayanan
10.  Memiliki standar praktik
11.  Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sebagai kebutuhan masyarakat
12.  Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi
Sebagai bidan professional, selain memiliki syarat-syarat jabatan professional bidan juga dituntut memiliki tanggung jawab sebagai berikut :
1.    Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date terus mengembangkan keterampilan dan kemahirannya agar bertambah luas serta mencakup semua asfek peran seorang bidan
2.    Mengenali batas–batas pengetahuan, ketrampilan pribadinya dan tidak berupaya melampaui wewenangnya dalam praktik klinik
3.    Menerima tanggung jawab untuk mengambil keputusan serta konsekuensi dari keputusan tersebut
4.    Berkomunikasi dengan pekerja kesehatn lainnya ( Bidan, dokter dan perawat ) dengan rasa hormat dan martabat
5.    Memelihara kerjasama yang baik dengan staf kesehatan dan rumah sakit pendukung untuk memastikan sistem rujukan yang optimal
6.    Melaksanakan kegiatan pemantauan mutu yang mencakup penilaian sejawat, pendidikan berkesinambungan, mengkaji ulang kasus audit maternal/ perinatal
7.    Bekerjasama dengan masyarakat tempat bidan praktik, meningkatkan akses dan mutu asuhan kebidanan
Menjadi bagian dari upaya meningkatkan status wanita, kondisi hidup mereka dan menghilangkan praktik kultur yang sudah terbukti merugikan kaum wanita.
C.    Identifikasi peran dan fungsi bidan sebagai pelaksana pelayanan kebidanan di institussi pelayanan kebidanan
bidan merupakan suatu profesi dinamis yang harus mengikuti perkembangan jaman .Oleh karena itu,bidan harus mampu berpartisipasi mengembangkan diri mengikuti permainan global.Partisipais ini dalam bentuk peran aktif bidan dalm meningkatkan kualitas pelayanan,pendidikan dan organisasi profesi.Peningkatan kualitas ini juga tidak luput dan harus mengacu pad peran,fungsi dan tanggungjawab bidan.
Sebagai pelaksana bidan mempunyai 3 kategori tugas yaitu,
1.    tugas mandiri
a.    Bidan Dwi Rahmawati menetapkan manjemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan kapada klien dengan cara:
Ø  Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi asuhan kebutuhan klien
Ø  Membuat catatan dan laporan kegiatan atau tindakan
Ø  Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi
b.    Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal
c.    Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien atau keluarga
d.    Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
e.    Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan  kebidanan pada wanita subur yang membutuhkan pelayanan KB
f.     Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan kebidanan pada bayi,balita dan melibatkan keluarga
Ø  mengkaji status kesehatan sesuai dengan tumbuh kembang bayi atau balita
Ø  melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana
Ø  membuat pencatatan dan laporan.
2.    tugas kolaborasi

a.    Bidan Dwi Rahmawati menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sebagai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi dengan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
b.    menentukan diagnosa,prognosa dan prioritas kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
c.    Bidan Dwi Rahmawati memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
d.    Bidan Dwi Rahmawati biasa nya melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain,seperti bidan PTT dan perawat dalam kasus-kasus tertentu yang tidak bisa ditangani sendiri.

3.    Tugas  ketergantungan/rujukan
Biasanya bidan Dwi Rahmawati  merujuk kerumah sakit atau kepuskesmas apabila ada potensi yang membahayakan dalam persalinan dan menangani masalah yang bukan menjadi wewenang bidan.
Klien yang memilih tempat rujukan.
Kendaraan biasa disiapkan bidan atau menggunakan kendaraan klien atau mobil masyarakat yang dipinjamkan.

D.    Identifikasi standar pelayanan  kebidanan yang dilaksanakan di institusi pelayanan kebidanan

Standar pelayanan yang di lakukan oleh bidan Dwi Rahmawati sangat sesuai dengan ketentuan standar bidan, sedangkan pelayanan yang di lakukan beliau tersebut sudah memenuhi standar kebidanan dengan melakukan berbagai macam pelayanan yang sangat di butuhkan masyrakat setempat. Misal  beliau meberikan pelayanan KB, imunusasai, penyuluhan , serta  pelayanan yang baik untuk kesehatan ibu dan anak.serta  berbagai tindakan pelayanan lainnya seperti melakukan tindakn kolaborasi serta rujukan untuk masyrakat atau pasien yang menggalami masalah dalam kesehatan seperti pendarahan hebat, atau  hamil yang pertama dan ditemukan ada masalah dalam kehamilannya atau ada kelainan pada posisi janin.
Dalam tindakan ini beliau sudah bisa dikatakan bisa melakukan pelayanan dengan baik dan melakukan tindakan yang sesuai dengan standar kopmpentensi kebidanan.
·         Standar I (Falsafah dan tujuan)

Visi dan Misi poskesdes Bhakti Rini
Visi : Masyarakat mandiri untuk hidup sehat
Misi :
ü  Menggerakan dan memberdayakan masyarakat
ü  Meningkatkan akses-akses terhadap pelayanan berkualitas
ü  Meningkatkan sistem monitoring dan informasi kesehatan.
Poskesdes Bhakti Rini mempunyai tujuan untuk memajukan desa banyurejo terhadap hidup sehat ,masyarakat aman tentram terbebas dari penyakit.
Struktur organisasi

Camat (pelindung)
           
                                    Kepala puskesmas (pembina)
             
          Ketua

                                     Sekretaris       Bendahara

·         Standar II (Administrasi dan pengelolaan)
Data dalam bentuk pendanaan biasanya pendanaan   yang telah di tetapkan oleh IBI serta pendokumentasian laporan dalam bentuk  pembukuan dan tersusun secara sistematis. Beliau juga biasanya melakukan tindakan dengan terstruktur  yang berawal dari penyerahan laporan berupa data SOAP yang tersusun dalam pembukuan, dan di serahkan kepada Kades  menyerahkan kepada posyandu, dan posyandu menyerahkan kepada dinas kesehatan atau IBI.

·         Standar III (Staf dan Pimpinan)

Bidan Dwi Rahmawati tidak memiliki staf karena pelayanan dilakukan sendiri atau mandiri/individual. Bidan Dwi Rahmawati biasanya di bantu oleh kader-kader nya dan para dukun beranak dan masyarakat setempat.

·         Standar IV (Fasilitas dan Peralatan)

Diposkesdes Dwi Rahmawati tersedia sarana dan peralatan untuk mendukung pencapaian tujuan pelayanan kebidanan sesuai dengan asuhan kebidanan yang berlaku,seperti obat-obatan,alat-alat kesehatan dan peralatan tambahan lainnya.seperti oksigen,infus dll.
Untuk fasilitas sudah tersedia ruang rawat inap dan WC/kamar mandi dll.

·         Standar V (Kebijaksanaan dan Prosedur)
Di poskesdes Bhakti Rini ada kebijaksanaan tertulis tentang prosedur pelayanan dan standar pelayanan yang di sahkan oleh pimpinan .
Ada personal pengajuan cuti pegawai,istirahat,sakit dan lain-lain.
·         Standar VII (Standar asuhan)

Pengelola pelayanan kebidanan memiliki standar asuhan/manajemen kebidanan yang diterapkan sebagai pedoman dalam memberi pelayanan kepada pasien.
Bidan Dwi Rahmawati sudah memberikan layanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar asuhan.

·         Standar VIII (Evaluasi dan pengendalian mutu)

Pengelolaan pelayanan kebidanan memiliki program dan pelaksanaan evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan kebidanan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Sistem pelaksaan yank bidan Dwi Rahmawati lakukan secara berkesinambungan seperti :
Bidan melakukan kerjasama dengan posyandu dalam memberi pelayanan pada masyrakat. Serta melakukan kerjasama dengan masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.

E.     Identifikasi praktik pelayanan kebianan secara primer,kolaborasi dan rujukan

Dalam melaksanakan praktik kebidanan Bidan Dwi Rahmawati dapat bekerja sendiri dalam menangani beberapa kasus yang memang masih menjadi wewenang seorang bidan.Namun,tidak dipungkiri bahwa bidan Dwi Rahmawati pernah menjumpai pasien dengan kelainan-kelainan yang memang penanganan kasusnya bukan menjadi wewenang bidan.Jadi,tidak jarang Bidan Dwi Rahmawati melakukan tindakan kolaborasi maupun rujukan ketenaga medis lainnya dan tidak jarang juga ia mendapat pasien rujukan dari dukun.
1)    Sistem pelayanan kebidanan secara primer
Dalam hal ini,bidan Dwi Rahmawati melakukan pelayanan primer pada kasus persalinan normal,memberikan pelayanan dasar ,pemeriksaan kehamilan,pemeriksaan pasien pre menopause.Jadi,bidan hanya boleh melakukan tindakan –tindakan yang menjadi kewenawngannya saja.
2)    Sistem pelayanan kebidanan secara kolaborasi
Selama menjalani pekerjaan sebagai tenagan kesehatan,tentu tidak jarang menemui pasien dengan beberapa masalah yang tidak bisa ditangani sendiri dan membutuhkan bantuan.Dalam hal ini,tentu kita akan meminta pertolongan kepada orang yang kita percayai dan sudah ada persetujuan sebelumnya. Begitu juga dengan Bidan Dwi Rahmawati,ia telah berkolaborasi bersama teman sejawatnya yaitu bidan Fri,bidan Nining dan seorang perawat yang bernama Nanik.
Pada awalnya,bidan ini pernah berkolaborasi bersama dukun-dukun setempat sebelum ia benar-benar dipercaya untuk menolong persalinan.Dan ia mempunyai pendapat sendiri tentang dukun-dukun itu,menurutnya mereka begitu perhatian terhadap pasiennya hanya saja persalinan yang dibantu oleh dukun tidak terjamin keamanannya.Ia mulai melakukan pendekatan dengan para dukun tersebut dan mulai merangkul,hingga akhirnya sekarang masyarakat percaya penuh kepada bidan Dwi Rahmawati untuk menolong perslinan.
3)    sistem pelayanan kebidanan rujukan
Tidak jarang bidan ini melakukan rujukan jika pasiennya memiliki beberapa maslah yang tidak menjadi wewenang bidan,misalnya  ibu bersalin yang mengalami preeklampsi , ibu pre menopause yang tidak normal,dll.Ia biasanya melakukan rujukan ke RS terdekat .

F.     Contoh manajemen asuhan kebidanan sebagai metodologi pendekatan pemecahan masalah dalam bentuk laporan SOAP

Manajemen asuhan kebidanan di poskesdes Bhakti Rini dengan metodologi pendekatan SOAP ,berdasarkan identifikasi yang telah dilaksanakan secara langsu ng,maka didapatkan informasi langsung dengan narasumber ialah bidan Dwi Rahmawati di asuhan kebidanan yang dilakukan oleh poskesdes Bhakti Rini telah memenuhi standar kualifikasi,yang berdasarkan oleh metodologi SOAP.
Asuhan yang dilakukan melalui pendekatan adanya sosialisasi kepada pasien .
Setiap pasien yang datang dikaji oleh bidan Dwi Rahmawati untuk memenuhi persyaratan yaitu setiap pasien yang datang maka akan ditanyakan data yang bersifat subjektif yang berisi:
1.    Nama pasien
2.    Usia pasien
3.    Alamat pasien
Setelah melakukan metodologi subjektif maka selanjutnya akan mencataat atau menganalisis objektif yaitu:
1.    Tindakan apa yang dilakukan saat menangani pasien
2.    Langkah selanjutnya adalah menanalisis atau mendiagnosis keluhan yang sedang dirasakan atau alami
3.    Langkah terakhir adalah penatalaksanan,yaitu melakukan tindakan yang sesuai dengan diagnosis sebelumnya.
4.    Setelah melakukan semua itu maka melakukan dokumentasi.


G.    Identifikasi kode etik profesi bidan yang dilaksanakan dalam pelayanan kebidanan di institusi pelayanan kebidanan

Dalam pelayanan yang di lakukan oleh bidan Dwi Rahmawati, dalam setiap tindakan pelayanan yang dilakukan oleh beliau sudah sesuai dengan kode etik yang berlaku, sesuai yang telah ditetap oleh pemerintah dan hukum.
Setiap tindakan yang beliau lakukan dalam praktiknya  sudah teratur dan terperinci sesuai kode etik. Sehingga dalam hal ini bidan Dwi Rahmawati  sudah melakukan pelayanan dengan baik dan sesuai dengan aturan atau undang-undang dan tidak ada penyimpangan atau penyalahgunaan kode etik dalam menjalan  pelayanan kebidanan dengan baik.

H.    Identifikasi sistem penghargaan bagi bidan dan perkembangan karier bidan

Bila dilihat dari pengakuan bidan Dwi Rahmawati yang mengaku bahwa ia belum pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah berupa piagam dan lain sebagainya.Mungkin tidak mudah untuk mendapatkan hal itu,atau memang pemerintah yang kurang peduli terhadap bidan-bidan yang telah berjuang.Meski selama pengabdiannya ia pernah menolong pasien dan tidak dibayar,ia menganggap hal ini adalah suatu kewjiban bidan untuk menolong walaupun tidak dibayar sama sekali.Tapi,ia mengaku bahwa ia telah mendapat penghargaan dari masyarakat berupa tanggapan masyarakt yang baik terhadap keberadaannya didesa itu.Tidak jarang juga ia diberi bingkisan oleh masyarakat sekitar.




I.       Kajian pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan
Berbicara tentang pemasaran jasa ini berkaitan dengan proses perdagangan jasa/produk/barang.Dalam dunia kebidanan pemasaran menjadi hal yang sangat penting karena bidan merupakan salah satu penyedia jasa dalam bentuk pelayanan maupun asuhan kebidanan.
Dilihat dari strategi dan kiat pemasaran dari sudut pandang penjual(bidan),yaitu:
a)    tempat yang strategis(place)
Seperti di Polindes bidan Dwi rahmawati yang terletak didekat jalan raya dan akses transportasi yang lancar mendukung bidan dalam melaksanakan sistem pelayanan kebidanan rujukan maupun kolaborasi.Berada disekitar perumahan warga,jadi warga tidak kesusahan untuk meminta bantuan bidan.
b)    produk yang bermutu(product)
Bidan dapat memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan pasien.
c)    harga yang kompetitif(price)
Dalam memberikan harga terhadap suatu produk yang ada,semua ditentukan menurut standar Organisasi IBI.
ü  Persalinan       :           Rp.600.000
ü  KB                  
Suntik              :           Rp.15.000 – 20.000
Implan             :           Rp.250.000
IUD                  :           Rp.250.000
ü  Imunisasi         :           Rp.20.000

Harga setiap persalinan saja Rp.600.000 sesuai dengan standar IBI . tapi kalau ada penambahan harga nya ditambah lagi. Misalnya menggunakan infus,oksigen,dan rawat inap dan peralatan lain.
Kadang ada yang bayar bukan dengan uang tapi dengan barang-barang dan makanan,bahkan ada yang tidak bayar bagi pasien yang ekonominya rendah.
d)    promosi yang gencar(promotion)
Tindakan promosi diadakan agar produk jasa yang ada bisa diketahui oleh masyarakat dan dapat dinikmati oleh masyarakat juga.Disamping itu,kita harus bisa memberikan pelayanan yang maksimal sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang telah kita berikan.Agar masyarakat mengetahui informasi kesehatn salah satu strategi yang bisa digunakan yaitu penyebaran informasi melalui media brosur,seperti yang telah dilakukan oleh bidan Dwi Rahmawati yang pernah mengadakan KB massal dan papsmear.Selain itu kita juga bisa bekerja sama dengan kader – kader seperti yang telah dilakukan oleh bidan ini.








BAB III
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A.  Falsafah kebidanan
Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah :
1.    Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam Undang – Undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan professional dan secara internasional diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM), FIGO dan WHO.
2.    Tugas, tanggungjawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan menteri kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI, AKP, KIA, Pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman dan KB.
3.    Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
4.    Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medic.
5.    Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
6.    Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
7.    Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
8.    Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
9.    Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat
10.   Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang professional dan interaksi social serta asas penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
11.  Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat.

Ø  PEMBAHASAN
Falsafah kebidanan menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini memberikan asuhan kebidanan. Falsafah kebidanan menjelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan dalam memberikan asuhan kebidanan.Dalam menjalankan prakteknya bidan Dwi Rahmawati sudah memberikan pelayan secara nasional diakui dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah indonesia.Karena beliau telah bergabung dalam anggota IBI.Serta menjalankan tugas prakteknya sesuai dengan peraturan IBI yang berlaku.Dengan tetap memperhatikan kode etik standar pelayanan dan standar kompetensi bidan.

B.  Sejarah perkembangan pelayanan pendidikan kebidanan
1.       perkembangan pelayanan kebidanan
Tenaga yang sejak dulu hingga saat ini memegang peranan penting dalam perkembangan kebidanan adalah dukun bayi. Dukun diminta pertimbangan pada masa kehamilan, mendampingi persalinan hingga selesai dan mengurus ibu serta bayinya dalam masa nifas.
Dukun bayi biasanya seorang wanita, umumnya berumur diatas 30 tahun dan buta huruf. Dukun adalah pekerjaan turun temurun di keluarga, ia mendapat pelatihan dari dukun yang elbih tua yang kelak akan digantikan. Pengetahuan mereka tentang fisiologi dan patologi kehamilan, persalinan dan nifas sangat terbatas hingga timbul komplikasi, ia tidak mampu mengatasi dan tidak menyadari akibatnya, meski demikian dukun dalam masyarakat mempunyai pengaruh yang besar, tidak hanya memberi pertolongan tapi juga emosional kepada wanita yang sedang bersalin serta keluarganya karena ia dapat membantu jalannya proses persalinan karena adanya doa-doanya.
Praktek kebidanan modern dibawa masuk ke Indonesia oleh dokter Belanda yang bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1850 dibuka kursus kebidanan yang pertama, tapi kemudian ditutup pada tahun 1873, kemudian pada tahun 1879 dibuka kembali.
Pendidikan dokter secara sederhana dimulai pada tahun 1815 dengan didirikannya Sekolah Dokter Jawa. Berkat peningkatan di segala bidang pendidikan termasuk tenaga kesehatan hingga pada pertengahan tahun 1979 telah ada 8000 dokter dan lebih dari 16.888 tenaga bidan. Khusus pelayanan kebidanan untuk masyarakat desa sebagian besar masih di dominasi tenaga-tenaga tradisional. Pada tahun 1978 kira-kira 90% persalinan masih ditangani dukun, 6% oleh bidan dan hanya 1 % yang ditangani dokter. Pada tahun 1950 dilaksanakan Program Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang pada umumnya dipimpin oleh bidan. Pada BKIA itu diselenggarakan pemeriksaan antenatal, post natal, KB, pemeriksaan dan pengawasan penyuluhan gizi pada anak dibawah umur 5 tahun serta pembinaan dukun bayi
Bidan juga dapat dipanggil ke rumah jika dapat kesulitan dalam persalinan. Di BKIA juga diadakan persalinan dukun bayi karena pada waktu itu tenaga dukun masih sangat diperlukan sehingga mereka dapat lebih cepat mengenal tanda-tanda bahaya yang dapat timbul dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta pertolongan pada bidan.
Demikian pula dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu peragaan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Pada tahun 1957 puskesmas memberikan pelayanan didalam gedung dan diluar gedung dan berorientasi di wilayah kerja. Pelayanan kebidanan yang diberikan diluar gedung adalah pelayanan kesehatan dan pelayanan di pos pelayanan terpadu (posyandu). Pelyanan di posyandu mencakup empat kegiatan yaitu pemeriksaan hamil, KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan.
Mulai tahun 1990 pelaksanaan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat sesuai instruksi presiden tahun 1992 yaitu penempatan bidan di desa sebagai pelaksana kesehatan KIA khususnya pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir termasuk pembinaan dukun bayi. Serta mengembangkan pondok bersalin sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Bidan yang di rumah sakit memberikan poliklinik antenatal, senam hamil, kamar bersalin, ruang nifas, dan ruang perinatal kamar opersai kebidanan.
Bidan dalam melaksanakan peran fungsinya didasarkan pada kemampuan yang diberikanyang diatur melalui permenkes dimulai dari :
1). Permenkes no 5380/IX/1963 wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri disamping tugas yang lain
2). Permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi 2 yaitu wewenang umum dan khusus dalam hal ini bidan melaksanakan tindakan dibawah pengawasan doker
3).  Permenkes no 572/VI/1996 tentang registrasi dan praktek bidan dalam melaksanakan tindakan
2.     perkembangan pendidikan bidan
Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan, yang dimaksud dengan pendidikan kebidanan adalah pendidikan formal dan non formal:
1.     Pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan hindia belanda, tahun 1851 dokter militer belanda membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di batavia
2.    Tahun 1904 mulai diibuka pendidikan bidan di rumah sakit militer di batavia
3.    Tahun 1911/1912 dimulai tenaga keperawatan di RSUP semarang dan batavia
4.    Tahun 1935-1938 pemerintah belanda mendidik bidan lulusan mulo (setingkat SMP) dan dibuka sekolah bidan di RSB Budi Kemuliaan Jakarta, RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyo di Semarang
5.    Tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun. Mengingat kebutuhabn tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak, dibuka pendidikan pembantu bidan /jenjang kesehatan E dan ditutup tahun 1976
6.    Tahun 1953 dibuka kursus tambahan bidan (KTB) di yogaykarta lamanya kursus antara 7-12 minggu
7.    Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan bersama dengan guru perawat di bandung, dan awal 1972 institusi pendidikan dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP), dan pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan bidan
8.    Tahun 1970 dibuka program pendididkan yang menerima lulusan sekolah pengatur rawat ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut sekolah pendidikan lanjutan jurusan kebidanan dan ini tidak dilaksanakan secara merata dari seluruh provinsi
9.    Tahun 1974 dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan tujuan adanya tenaga di lapangan dimana salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal
10.  Tahun 1975-1985 institusi pendidikan bidan ditutup
11.  Tahun 1981 dibuka pandidikan D, kesehatan ibu dan anak, yang berlangsung hanya satu tahun
12.  Tahun 1985 dibuka program pendidikan bidan lulusan SPB dan SPK, lamanya pendidikan 1 tahun dan lulusannya dikembalikan kepada institusi yang mengirim
13.  Tahun 1989 dibuka Cresh program pendidikan bidan secara normal yang lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan (PPB/A), lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya ditempatkan di desa dengan tujuan untuk memberikan pelajaran kesehatan terutama ibu dan anak di daerah pedesaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak. Mulai tahun 1996 status bidan di desa sebgaai pegawai tidak tetap (PTT)
14.  Tahun 1993 dibuka PPB program bidan yang peserta didukungnya dari lulusan akper dengan lama pendidikan 1 tahun yang tujuannya untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada program pendidikan bidan A
15.  Tahun 1993 dibuak PPB program C yang menerima lulusan SMP dilakukan di 11 provinsi di wilayah sumatera, kalimantan, sulawesi selatan, NTT, maluku dan irian
16.  Tahun 1994-1995 pemerintah menyelenggarakan uji coba pendidikan PPB jarak jauh di 3 Provinsi jawa barat, jawa tengah, jawa timur. Pengaturan penyelenggaraan telah diatur dalam SK menkes no 1247/menkes/SK/XII/1994
17.  Tahun 1994 dilakukan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal LLSS
18.  Tahun 1996 Ibi bekerja sama dengan depkes dan American College of Nurse Midwife (ACNM) dan RS swasta menjadikan training kepada anggota IBI sebanyak 8 orang untuk LSS yang kemudian menjadi tim pelatih LSS inti di PP IBI
19.  Tahun 1995-1998 IBI bekerja sama dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan RS, bidan puskesmas dan bidan desa di provinsi kalimantan selatan
20.  Tahun 2000 ada pelatihan APN yang dikoordinasikan untuk maternal neonatal health (MNH) sampai saat ini telah melalui APN di beberapa provinsi.

Ø  PEMBAHASAN
Sejarah di bangunnya POSKESDES Dwi Rahmawati                                                                     
Narasumber: Dwi Rahmawati, Amd, Keb
POSKESDES BHAKTI RINI di bangun pada sekitar tahun 1997-2000, POSKESDES ini di bangun di atas lahan warga, POSKESDES ini sebelumnya merupakan tanah dan rumah milik warga setempat, setelah mengadakan kesepakatan dengan beberapa perangkat desa, maka di setujuilah untuk di bangun lalu di kontrak dan sampai saat ini masih di kontrakkn. Setelah melakukan musyawarah, menimbang, mengkaji, serta  mengobservasi dengan berbagai pihak seperti pemerintah setempat  dan perangkat desa serta masyarakat yang terlibat di dalam organisasi  perintis POSKESDAES,  maka di setujuilah  untuk di bangunnya POSKESDES, dengan mengunakan dana bantuan dari pemerintah  setempat sejumalah Rp 3.000.000 dan di tambah dari dana swadaya desa atau masyarakat  yang berjumlah Rp 25.000.000  untuk membangun dan sekaligus memfasilitasi pengadaan alat-alat pertama kali di berikan pemerintah berupa (KIT dan satu set alat partus)  dan obat-obatan dan ada juga beberapa fasilitas lain seperti almari dan bantuan lainnya , pada waktu itu pembangunan POSKESDES  tersebut di limpahkan dan dikelola sepenuhnya kepada perangkat desa untuk membangun POSKESDES tersebut dengan bantuan  masyarakat desa, Bangunan POSKESDES tersebut  rangkum di bangun pada awal Tahun 1998  dengan luas lahan 12x9 m2 dan pada tahun 2000 resmi pindah dan di tempati oleh Bidan Dwi rahmawati. Bidan Dwi Rahmawati di temapatkan di POSKESDES BHAKTI RINI sejak tahun 1997 dan sampai sekarang( terhitung sudah lima belas tahun). Dan masih di percaya untuk mengelola POSKESDES tersebut. Seiring dengan perkembangan dari masa ke masa POSKESDES BHAKTI RINI yang dikelola oleh bidan Dwi Rahmawati sudah banyak di renovasi dari fasilitas, pengadaan alat-alat yang baru dan obat-obattan, serta melakukan pemenuhan kelayakan fasilitas pelayanan  sesuai dengan standar IBI. POSKESDES yang sudah lima belas tahun berdiri  sampai  saat ini masih berdiri kokoh serta masih melakukan pelayanan,pendidik, dan pengelola serta memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu hamil, anak-anak serta masyarakat setempat.  

C.  Paradigma asuhan kebidanan
PENGERTIAN
1. Suatu cara pandang dalam memberikan pelayanan kebidanan.
2. Paradigma asuhan kebidanan adalah berupa pandangan terhadap manusia/wanita, lingkungan, layanan kesehatan dan kebidanan.

Komponen Paradigma manusia
a. Adalah makhluk Bio-Psiko-Sosio-Kultural-Spiritual serta unik dan utuh.
b. Punya Siklus tumbuh dan berkembang
c. Punya kemampuan untuk mengatasi perubahan dunia (kemampuan dari lahir atau belajar dari lingkungan).
d. Cenderung mempertahankan keseimbangan Homeostasis.
e. Cenderung beradaptasi dengan lingkungan
f. Memenuhi kebutuhan melalui serangkaian peristiwa belajar
g. Mempunyai kapasitas berfikir, belajar merasionalisasi, berkomunikasi dan mengembangkan budaya serta nilai-nilai.
h. Mampu berjuang untuk mencapai tujuan.
i. Terdiri dari pria dan wanita.
j. Keluarga

Peran wanita di dalam keluarga
a. Sebagai Pendamping
b. Sebagai Pengelola
c. Sebagai Pencari Nafkah
d. Sebagai Penerus Generasi

Peran bidan untuk individu dan masyarakat
a. Menolong individu mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
b. Membawa perubahan tingkah laku yang positif
c. Merencanakan perawatan yang bersifat individual.
d. mengetahui budaya-budaya yang berkembang dalam masyarakat
e. Menerapkan Pendektan komprehensif

LINGKUNGAN
a. Semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktivitasnya.
b. Adalah organisasi biologis yang meliputi semua organisme yang berada dalam wilayah tertentu yang berinteraksi dengan lingkungan fisik.
c. Lingkungan menjadi persyaratan yang penting agar kesehatan ibu dapat terjaga
d. Penyesuaian ibu terhadap lingkungan sekitarnya serta tempat tinggal yang memadai juga menunjang kesehatan ibu.
e. Lingkungan Fisik
• Terdiri dari semua benda-benda mati yang berada disekitar kita.
• Wanita merupakan bagian dari keluarga serta unit dari komuniti
• Keluarga bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan
f. Budaya
• Meliputi sosial-ekonomi, pendidikan, kebudayaan.
• Lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan bumil, bulin dan bufas.
g. Psikososial
• Ibu sebagai wanita terlibat dalam interaksi antara keluarga, kelompok, dan masyarakat
• Keberadaan wanita yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sangat diperlukan karena wanita mempunyai 5 peran yang sangat penting dalam keluarga.
h. Biologis
• Meliputi genetika, biomedik dan maturistik
• Manusia merupakan susunan sistem organ tubuh yang mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya.

KESEHATAN
a. Terdapat “PERILAKU”, yaitu : hasil dari berbagai pengalaman serta interaksi manusia dgn lingkungan nya.
b. Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
c. Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan proses, yaitu proses adaptasi individu yang tidak hanya tehadap fisik tetapi juga terhadap lingkungan sosial.
d. Wujud : dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.

Karakteristik Sehat
• Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia
• Memandang sehat dalam konteks eksternal & internal.
• Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.

PERILAKU
Perilaku merupakan hasil seluruh pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.

Perilaku Sehat
• Perilaku merupakan hasil segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang terwjud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan perilaku manusia bersifat holistik atau menyeluruh.
• Ibu yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman serta selalu melakukan hubungan atau interaksi dengan lingkungannya maka akan mendapat informasi dalam menjaga kesehatannya.
perilaku propesional dari bidan mencakup ;
• Dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada filosofi, etika profesi dan aspek legal
• Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keputusan klinis yang dibuatnya
• Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
• Menggunakan cara pencegahan universal untuk mencegah penularan penyakit dan strategi pengendalian infeksi
• Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
• Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktek kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak
• Menggunakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri
• Menggunakan keterampilan komunikasi
• Bekerjasama dengan petugas kesehatan lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga
• Melakukan advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan

KEBIDANAN
a. Pelayanan Kebidanan terbagi menjadi 3 jenis :
• Layanan kebidanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan.
• Layanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan kebidanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersama-sama atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
• Layanan kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya. Pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ketempat/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya secara horizontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.

b. Batang Keilmuan Kebidanan terdiri dari beberapa yaitu :
• Ilmu Kedokteran
• Ilmu Keperawatan
• Ilmu Kesehatan Masyarakat
• Ilmu Sosial
• Ilmu Budaya
• Ilmu Psikologi
• Ilmu Manajemen

c. Pelayanan Kebidanan :
• seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan.
• Tujuan meningkatkan KIA dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat.

Manfaat paradigma dikaitkan dengan asuhan kebidanan
a. orang/individu/manusia adalah fokus paradigma.
b. orang/manusia harus bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri.
c. manusia berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat.
d. lingkungan / masyarakat dapat mempengaruhi kesehatan.
e. Bidan sebagai manusia harus memiliki ilmu pengetahuan untuk mengetaui bagaimana diri sendiri.
f. dengan mengetahui bagaimana diri sendiri diharapkan bidan dapat memahami orang lain/manusia lain, sehingga bidan harus bersikap objektif dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada wanita-wanita.
g. sifat-sifat manusia harus diperhatikan, keterbukaan dan kesabaran antara hubungan bidan dan wanita sangat dibutuhkan.
h. interaksi antara bidan dan pasien mendorong keterbukaan hubungan bidan dengan wanita.
i. bidan – pasien saling membutuhkan.
j. bidan harus menganggap pekerjaan sebagai suatu hal yang menarik, menumbuhkan ketertarikan dalam aspek kesehatan, contohnya saja dalam interaksi bidan – pasien dan dalam bekerja dengan teman-teman dan tim kesehatan lain.
Ø  PEMBAHASAN
Dalam paradigma kebidanan yakni bagaimana cara pandang bidan dalam memberi asuhan dan pelayanan, menurut hasil observasi kelompok kami beliau sudah berhasil menerapkan hal tersebut jika dilihat dari pemenuhan kesehatan dasar yang di berikannya kepada masyarakat setempat seperti pemenuhan kebutuhan yang paling banyak di inginkan masyarakat desa tersebut  yaitu penanganan dan pengobatan flu dan batuk pada anak,periksa hamil dan pemilihan alat kontrasepsi (KB suntik),serta konseling lansia (pre menopause). Bidan Dwi Rahmawati dapat meyakinkan masyarakat setempat untuk sedikit meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kesehatan.beliau dapat mengubah pola pikir masyarakat setempat tentang hal-hal yang merugikan kesehatan dengan cara merangkul tokoh-tokoh masyarakat ,bidan,kader dan masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan masyarakat.


D.  Profesi kebidanan

Bidan diakui sebagai tenaga profesional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi.

Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

PENGERTIAN BIDAN
1. Definisi bidan menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional/ Kongres ICM. Definisi terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia ditetapkan sebagai berikut: Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.

2. Menurut Kep Menkes RI No. 900/MENKES/SK/VII/2002, Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku. Bidan adalah seseorang yang telah mendapatkan lisensi untuk melaksanakan praktek kebidanan (Wahyuningsih, 2005).

3. Bidan (midwife/pendamping istri) berasal dari bahasa Sansekerta ”Wirdhan” yang artinya wanita bijaksana. Bidan adalah sebuah profesi yang khusus, dinyatakan sebagai sebuah pengertian bahwa bidan adalah orang pertama yang melakukan penyelamatan kelahiran sehingga ibu dan bayinya lahir dengan selamat. Tugas yang diemban bidan berguna untuk kesejahteraan manusia.

PROFESIONALISME
Seorang pekerja profesional adalah seorang pekerja yang terampil atau cakap dalam kerjanya, dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilannya.
Pengertian jabatan profesional perlu dibedakan antara jenis pekerjaan yang menuntut dan dapat dipenuhi lewat pembiasaan melakukan keterampilan tertentu (magang, keterlibatan langsung dalam situasi kerja di lingkungannya dan seseorang pekerja profesional sebagai warisan orang tuanya atau pendahulunya). Seseorang pekerja profesional perlu dibedakan dari seorang teknisi keduanya (pekerja profesional dan teknis) dapat saja terampil dalam unjuk kerja yang sama (misalnya: menguasai tehnik kerja yang dapat memecahkan masalah-masalah teknis dalam bidang kerjanya), tetapi seseorang pekerja profesional dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilan yang menyangkut wawasan filosofi, pertimbangan rasional dan memiliki sikap yang positif dalam melaksanakan serta memperkembangkan mutu karyanya (T. Raka Joni, 1980).
CIRI-CIRI JABATAN PROFESIONAL

Ciri-ciri jabatan profesional tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bagi pelakunya secara nyata (defakto) dituntut berkecakapan kerja (keahlian) sesuai dengan tugas-tugas khusus serta tuntutan dari jenis jabatannya (cenderung ke spesialisasi).
2. Kecakapan dan keahlian bukan sekedar hasil pembiasaan atau latihan rutin yang terkondisi, tetapi perlu didasari oleh wawasan keilmuan yang mantap serta menuntut pendidikan juga. Jabatan yang terprogram secara relevan serta berbobot, terselenggara secara efektif-efisien dan tolak ukur evaluatifnya terstandar.
3. Pekerja profesional dituntut berwawasan sosial yang luas, sehingga pilihan jabatan serta kerjanya didasari oleh kerangka nilai tertentu, bersikap positif terhadap jabatan dan perannya, dan bermotivasi serta berusaha untuk berkarya sebaik-baiknya: Hal ini mendorong pekeria profesional yang bersangkutan untuk selalu meningkatkan (menyempurnakan) diri serta karyanya Orang tersebut secara nyata mencintai profesinya dan memiliki etos kerja yang tinggi.
4. Jabatan professional perlu mendapat pengesahan dari masyrakat dan atau negaranya. Jabatan professional memiliki syarat-syarat serta kode etik yang harus dipenuhi oleh pelakunya, hal ini menjamin kepantasan berkarya dan sekaligus merupakan tanggung jawab sosial pekerja professional tersebut.

Persyaratan umum jabatan profesional Persyaratan umum jabatan profesional sebagai berikut :
1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis.
2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan tenaga profesional.
3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat.
4. Mempunyai kewenangan yang disyahkan atau diberikan oleh pemerintah.
5. Mempunyai peran dan fungsi yang jelas.
6. Mempunyai kompetensi yang jelas dan terukur.
7. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah.
8. Memiliki etika profesi.
9. Memiliki standar pelayanan
10. Memiliki praktek.
11. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
12. Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi.

BIDAN MERUPAKAN JABATAN PROFESIONAL
Bidan merupakan jabatan profesional. Berdasarkan syarat-syarat profesional, maka bidan telah memiliki persyaratan dari Bidan sebagai jabatan profesional:
1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis
2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan sebagai tenaga professional
3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat
4. Memiliki kewenangan yang disyahkan atau diberikan oleh pemerintah
5. Memiliki peran dan fungsi yang jelas
6. Memiliki peran dan fungsi yang jelas
7. Memiliki kompetensi yang jelas dan terukur
8. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah
9. Memiliki kode etik kebidanan
10. Memiliki standar pelayanan
11. Memiliki standar praktek
12. Memiliki standar pendidikan yang mendasar dan mengembangkan profesi sesuai kebutuhan pelayanan
13. Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi

Sehubungan dengan profesionalisme jabatan bidan, maka bidan merupakan jabatan profesional. Jabatan dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu :

1. Jabatan struktural
Jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegas ada dan diatur berjenjang dalam suatu organisasi

2. Jabatan Fungsional
Jabatan fungsional adalah jabatan yang ditinjau serta dihargai dari aspek fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat dan negara. Selain fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarakat, jabatan fungsional juga berorientasi kualitatif. Dalam konteks ini, jabatan bidan adalah jabatan fungsional profesional dengan demikian, adalah wajar jika bidan mendapatkan tunjangan fungsional.
Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mengembangkan pelayanan yang unik bagi masyarakat.
2. Anggota-anggotanya dipersiapkan melalui suatu program pendidikan yang ditujukan untuk maksud profesi yang bersangkutan.
3. Memiliki serangkaian pengetahuan ilmiah.
4. Anggota-anggotanya menjalankan tugas profesinya sesuai dengan kode etik yang belaku.
5. Anggota-anggotanya bebas mengambil keputusan dalam menjalankan profesinya.
6. Anggota-anggotanya wajar menerima imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan.
7. Memiliki suatu organisasi profesi yang senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh anggotanya.

ORGANISASI PROFESI
Dinegara-negara yang sudah maju pengaturan dan pengawasan suatu profesi merupakan tanggung jawab dari organisasi profesi melalui suatu lembaga konsil keprofesian yang mandiri dan dibentuk berdasarkan Undang-Undang (Acts). Apabila organisasi profesi kurang atau tidak bcrperan dalam penyusunan regulasi mengenai praktek keprofesian tersebut maka pengendalian perilaku tiap anggota profesi menjadi terpusat kepada pemerintah. Hal ini sangat menghambat pendewasaan dan kemandirian profesi itu sendiri.

Beberapa pedoman di dalam keberadaan organisasi profesi menurut Azrul Azwar (1998) adalah :
1. Didalam suatu profesi hanya terdapat satu organisasi profesi yang para anggotanya berasal dari satu profesi, dalam arti telah menyelesaikan pendidikan dengan dasar ilmu yang sama.
2. Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan kompetensi profesi serta memperjuangkan otonomi profesi
3. Kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta merumuskan standar pelayanan profesi , standar pendidikan dan pelatihan profesi serta menetapkan kebijakan profesi.

Organisasi profesi mempunyai peran dan fungsi antara lain sebagai :
1. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap mutu pendidikan profesi tersebut.
2. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap pelayanan profesi tsb.
3. Pembina dan pengembang dalam ilmu pengetahuan dan teknologi profesi tersebut.
4. Pembina, pengembang dan pengawas kehidupan profesi.

Sesuai dengan peran itu maka organisasi profesi mempunyai fungsi antara lain:
1) Bidang pendidikan : menetapkan standar pendidikan dan pendidikan berkelanjutan (continuing education). 2) Bidang pelayanan : menetapkan standar profesi, ijin praktik. registrasi anggota serta menyusun dan memberlakukan kode etik profesi. 3) Bidang IPTEK : merencanakan, melaksanakan dan mengawasi riset dan perkembangan IPTEK dalam profesi tersebut. 4) Bidang kehidupan profesi : membina operasionalisasi organisasi profesi. membina kerjasama dengan pemerintah. masyarakat. Profesi lain bahkan dengan organisasi profesi sejenis dinegara lain, serta mengupayakan kesejahteraan anggotanya

Menurut Breckon ( 1989). Organisasi profesi memberi manfaat sebagai berikut:
1. Profesi akan lebih maju dan berkembang
2. Ruang gerak profesi menjadi lebih luas dan tertib.
3. Warga profesi dapat menyalurkan aspirasi dan pendapatnya.
4. Anggota profesi dapat kesempatan untuk berkarya dan berperan aktif dalam memajukan profesi.
Sedangkan manfaat secara lebih luas menurut World Medical Association (1991) ada dua hal yaitu makin tertibnya pekerjaan profesi dan meningkatnya kualitas hidup serta derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL
Pengembangan Tenaga Kesehatan harus disertai pula dengan upaya memberdayakan tenaga kesehatan didalam menjalankan profesinya. Oleh karena itu organisasi profesi yang membina jenis tenaga kesehatan itu harus diberi peran yang maksimal dalam mengatur dan mengembangkan tenaga kesehatan itu sendiri. Sumber daya manusia kesehatan harus diprogramkan pengembangannya dengan baik karena mereka memiliki dampak ganda yang berkepanjangan dan dapat mempengaruhi berbagai bidang upaya kesehatan.

Di dalam PP /1996 tentang Tenaga Kesehatan dikenal 7 jenis tenaga kesehatan yaitu:
1. Tenaga medis,
2. Tenaga keperawatan,
3. Tenaga kefarmasian,
4. Tenaga kesehatan masyarakat,
5. Tenaga gizi,
6. Tenaga keterapian fisik, dan
7. Tenaga ketehnisian medik.

Pada saat ini belum semua jenis tenaga kesehatan tersebut merniliki organisasi profesi yang mantap. Untuk meningkatkan sistem pengembangan tenaga kcsehatan diberbagai jenjang pembangunan kesehatan, peran serta aktif organisasi-organisasi profesi kesehatan sangat diharapkan. Organisasi inilah yang merupakan mitra pemerintah dalam mengupayakan agar setiap tenaga kesehatan tidak melupakan landasan profesi dan landasan moralnya dalam bekerja. Oleh karena itu, organisasi profesi yang masih lemah perlu ditata, dikembangkan dan dibina secara sistematis. Penataan, pengembangan dan pembinaan itu tidak terbatas pada pembentukan lembaga dan kepengurusannya sampai kabupaten/kota. melainkan juga sampai kepada berfungsinya organisasi tersebut dalam menjaga standar dan etika profesi. Insiatif harus dilakukan oleh unit pengembangan tenaga kesehatan yang ditugasi, dalam hal ini Bidang Pemberdayaan Profesi dari Pusat Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan Luarnegeri. Tugas utamanya ialah menginventarisasi dan melaksanakan bimbingan terhadap organisasi profesi tersebut. Namun diharapkan pula tindakan pr-oaktif dar profesi kesehatan agar keterlibatan organisasi profesi kesehatan dalam sistern pengembangan tenaga kesehatan segera terwujud.
Ø  PEMBAHASAN
Dari hasil observasi kelompok kami, kami menyimpulkan bahwa,  seorang bidan yang profesional  adalah seorang bidan yang  mampu melakukan  pelayanan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dan mampu memberi pelayanan dengan baik serta cakap dalam melakukan tindakan, dalam hal ini bidan Dwi Rahmawati sudah melakukan pelayanan yang profesioanal  serta  tidak melakukan hal yang menyalahi aturan pelayanan kebidanan  yang baik. Dan disana juga tercipta kerjasama yang baik  antara bidan,kader ,dukun beranak  serta perangkat  desa.
Pendapat  kami bahwa  bidan Dwi Rahmawati sudah melaksanakan  peran dan fungsi bidan sesuai dengan  standar pelayanan kebidanan, namun dalam hal ini ada beberapa yang perlu di benahi  serta perlu untuk perbaikan dan kepuasan  pasien.bidan Dwi Rahmawati sudah  melakukan pelayanan dengan baik, sehingga gambaran pelayanan kebidanan  sudah ada pada beliau sehingga  tindakan yang beliau lakukan sudah baik dan tidak ada penyimpangan atau pun penyalahgunaan pelayanannya, sehingga  harapan dalam melakukan pelayanan  kedepannya adalah lebih baik dan lebih mengoptimalkan dalam memberi kepuasan dalam memberi pelayanan  kepada masyarakat  atau pun pasien.

E.  Pemasaran jasa profesi
Ø  PEMBAHASAN
Teknik pemasaran di identik dengan Proses pemasaran jasa profesi yang diorentasikan sebagai preoses pelayanan kepada klien dengan menggunakan metode-metode berupa pemasaran jasa profesi yang dapat memuaskan klien dalam pelayanan 
Kesehatan, sistem keseluruhan dari kegiatan yang ditujukan untuk:
merencanakan, menentukan, mempromosikan dan mendistrubusikan barang dan jasa yg memuaskan serta pelayanan yang memuaskan.
Pemasaran adalah sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengan tujuan dari sebuah perencanaan dan penentuan sebuah jasa seseorang sampai dengan promosi  dan jasa yang bisa memuskan kebutuhan klien serta merupakan proses sosial antara bidan dank lien sehingga terciptanya sebuah kepuasan dan membutuhkan antara satu dengan yang lain. Pemasaran jasa profesi sangat di butuhan agar terbentuknya kepercayaan antara bidan dan klien, Tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan yang bermutu.


F.   Lingkup praktik kebidanan
Ruang lingkup praktik kebidanan berdasarkan  Kepmenkes no 900/Menkes/SK/VII/2002
  • Pelayanan kebidanan : asuhan bagi perempuan mulai dari
  1. pranikah,
  2. pra kehamilan,
  3. selama kehamilan,
  4. persalinan,
  5. nifas,
  6. menyusui,
  7. Interval antara masa kehamilan
  8. menopause,
  9. termasuk asuhan bayi baru lahir, bayi dan balita
  • Pelayanan KB :
  1. konseling KB,
  2. penyediaan berbagai jenis alat kontrasepsi,
  3. nasehat dan  tindakan bila terjadi efek samping
  • Pelayanan kesehatan masyarakat :
  1. Asuhan untuk keluarga yang mengasuh anak
  2. Pembinaan kesehatan keluarga
  3. Kebidanan komunitas
  4. Persalinan di rumah
  5. Kunjungan rumah
  6. Deteksi dini kelainan pada ibu dan anak
B .Sasaran pelayanan kebidanan
  • Individu
  • Keluarga
  • Masyarakat
meliputi  upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan
C. Lahan Praktik kebidanan : meliputi berbagai tatanan pelayanan
  • BPS/ di rumah
  • Masyarakat
  • Puskesmas
  • Polindes/PKD
  • RS/RB
  • Klinik dan unit kesehatan lainnya
Ø  PEMBAHASAN
Dalam memberikan asuhan kebidanan beliau sangat memperhatikan dan melaksanakan tindakan yang sesuai wewenangnya sebagai seorang bidan dalam lingkup praktik kebidanan. Beliau selalu melakukan tindakan sesuai dengan wewenangnya, yakni menolong persalinan normal. Bila ditemukan ada kasus persalinanan yang berbahaya  yang dapat membahayakan nyawa ibu dan bayi dan  bukan menjadi wewenang (diluar wewenang bidan) beliau tidak mau mengambil resiko  melakukan tindakan berlebihan  karena bukan wewenang seorang bidan. Jika terjadi  hal yang membuat kematian sang ibu atau bayi maupun keduanya  maka beliaulah yang akan disalahkan karena beliau tidak melaksanakan tindakan  yang sesuai lingkup praktik kebidanan.

G.  Pengorganisasian praktik kebidanan

Pengorganisasian praktek kebidanan dapat dibedakan menjadi 3yaitu:
1. Pelayanan Mandiri / Primer
  • Merupakan layanan  kepada klien yang menjadi tanggung jawab bidan sepenuhnya sesuai dengan kepmenkes no 900/Menkes/SK/ VII/2002
  • Dalam memberikan layanan ini bidan yang berkompeten harus tahu kapan harus bertindak sesuai wewnwngnya, kapan tidak bertindak, kapan hanya memantau dengan ketat, kapan merujuk, konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
2.Pelayanan Kolaborasi
  • Dilakukan bidan sebagai anggota tim, kegiatannya dilakukan secara bersama-sama atausebagai suatu roses pelayanan kesehatan mis: merawat ibu hamil dengan komplikasi medik atau obstetrik
  • Tujuan pelayanan: berbagi otoritas dalam pemberian pelayanan berkualitas sesuai ruang lingkup masing-masing
  • Kemampuan untuk berbagi tanggung jawab antara bidan dan dokter sangat penting agar bisa saling menghormati, saling mempercayai dan menciptakan komunikasi efektif antara kedia profesi
3. Pelayanan Rujukan
  • Pengertian: memindahkan perawatan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi jika dipertimbangkan ada kondisi patologis diluarwewnang bidan
  • Fungsi bidan salah satunya adalah melakukan skirining terhadap adanya komplikasi kehamilan agar dirujuk untuk mendapatkanperawatan khusus dari idokter spesialis
4. Pelayanan Konsultasi
  • Pada kondisi tertentu bidan membutuhkan nasehat atau pendapat dari dokter atau anggota tim perawatan klien yang lain tapi tanggung jawab uama terhadap klien tetap ditangan bidan
Tugas bidan dalam penatalaksanaan kolaborasi:
  • Melindungi dan memfasilitasi setiap proses yang bersifat normal
  • Menyediakan informasi yang bersifat tentang pilihan-pilihan yang bersift aman
  • Membantu ibu dalam pengambilan keputusan
  • Melibatkan keluarga
  • Memberi advokasi
  • Penyuluhan dan konseling
  • Memberi asuhan berkesinambungan

Ø  PEMBAHASAN

Dari hasil observasi  kelompok kami, kami menyimpulkan bahwa bidan Dwi Rahmawati sudah semaksimal mungkin melaksanakan praktik kebidanan. Beliau melaksanakan pelayanan bidan mandiri yakni secara primer untuk menangani partus dalam keadaan normal. Beliau juga sering melaksanakan kolaborasi dengan dukun bayi di desa Banyurejo tersebut dalam hal menangani partus, karena dengan dua orang yang menangani  akan terasa lebih ringan dan lebih efektif mengerjakan tugas pelayanan. Bila ditemui hal yang gawat yang bukan merupakan wewenang beliau sebagai bidan , beliau langsung memutuskan untuk merujuk ke Rumah Sakit terdekat di daerah tersebut karena jika beliau berani mengambil resiko untuk menanganinya tentu hal itu akan membahayakan nyawa ibu dan bayi serta membahayakan dirinya juga karena menyalahi prosedur kebidanan dan kode etik bidan.

H.  Penerapan asuhan kebidanan /manajemen kebidanan

Manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu management yang berarti ketatalaksanaan atau pengelolaan. Asuhan kebidanan adalah bantuan yang di lakukan oleh bidan pada individu pasien atau kelien yg pelaksaan nya dilakukan secara bertahap dan sistematis melalui suatu proses yang di sebut manajemen kebidanan.


Model asuhan kebidanan di Indonesia belum di rumuskan secara baku, baik oleh IBI maupun departemen kesehatan indonesia. Sejak tahun 1994 depkes RI telah menerbitkan buku manajemen kebidanan dan peraturan mentri kesehatan RI, NO 572/MENKES/Per/VI/1996, yang memberi kekuatan hukum yang pasti pada praktek bidan di indonesia. Namun, tugas bidan unt tetap meningkatkan kemampuan dan keterampilannya(kompetensi) sehingga dpt memberikan pelayanan yang aman dan bermutu.

Pelayanan bidan tidak hanya terbatas pada pemeriksaan kehamilan dan pertoongan persalinan, ttp juga meluas sampai kekonseling dan pendidikan kesehatan. Sasaran penddkn kesehatan kebidanan tdk hanya pd wanita saja, ttp juga keluarga dan komunitasnya. Asuhan kebidanan meliputi tindakan pencegahan, pendeteksian dini keadaan abnormal, menupayakan bantuan medik lain jika di perlukan, dan melakukan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lain. Lingkup praktek kebidanan adalah asuha primer pada bayi dan wanita dari masa pubertas sampai lanjut usia.

Praktek bidan adalah manajemen mandiri dan pemeliharaan kesehatan wanita dengan suatu sistem kesehatan yang memberikan manajemen konsultasi, kolaborasi, dan rujukan. Walaupun pada umumnya bidan menangani wanita atau bayi sehat, ttp jika wanita atau bayi mengalami komplikasi medic ginekologi, atau obstetric, bidan ttp dapat mmberikan pertolongan. Praktek mandiri tidak harus diartikan “sendirian” karena situasi klinis ketika seorang praktisi yang bijak akan meminta bantuan dari praktisi lain yang memenuhi syarat sehubungan dengan ini pola asuhan klien dngan resiko tinggi adalah ssb:
1.    Konsultasi adalah proses apabila bidan yang bertanggung jawab dalam asuhan primer wanita atau bayi meminta nasehat atau pendapat dari dokter atau anggota tim kesehatan lain.
2.    Kolaborasi adalah proses jika bidan secara bersama sama menangani asuhan wanita atau bayi yang mengalami k1
3.    Rujukan merupakan merupakan ketika bidan menyerahkan atau mengirimkan klien ke dokter atau profesi kesehatan lainnya untuk manajemen masalah sebagai upaya pelayanan kebidanan yang berkelanjutan. Peran bidan dalam rujukan akan lebih baik pemahamannya apabila bidan dilihat sebagai pemberi asuhan primer. Fungsi bidan adalah menemukan tanda dan gejala awal masalah medik dan/ atau komplikasi kehamilan dan merujuk wanita yang membutuhkan keahlian khusus kepada ahli obstetri dan ginekologi, ahligenetik, kardiologi, urologi, ahli bedah, ahli penyakit dalam, dst. Oleh karena iti bidan adalah pemberi jasa pelayanan kebidanan primer, ia harus mengidentifikasi kebutuhan perawatan klien keseorang spesialis.

Manajemen asuhan kebidanan
Proses manajemen adalah suatu proses pemecahan. Proses manajemen memberi suatu metode pengaturan/pengorganisasian pikiran dan tindakan dalam suatu urutan yang logis dan menguntungkan baik pasien maupun petugas kesehatan.
Komponen asuhan kebidanan dalam proses manajemen asuhan kebidanan terdiri dari hal – hal berikut.
1.    Secara sistematis mengumpulkan dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan dengan melakukan pengkajian yang komrehensif terhadap kesehatan pasien, termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
2.    Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosis berdasarkan interprestasi data dasar.
3.    Bertanggung jawab terhadap implementasi rencana individual.
4.    Melakukan konsultasi perencanaan dan malaksanakan manajemen dengan kolaborasi dan merujuk pasien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya.
5.    Merencakan manajemen komplikasi tertentu dalam situasi darurat dan jika ada penyimpangan dari keadaan normal.
Melakukan evaluasi bersama pasien terhadap pencapaian asuhan sesuai dengan kebutuhan.

Langkah – langkah dalam manajemen kebidanan :
1. Langkah I: Pengumpulan data.
2. Langkah II: Interprestasi data.
3. Langkah III: Indentifikasi diagnosis dan masalah potensial.
4. Langkah IV: Indentifikasi kebutuhan yang perlu penanganan segera.
5. Langkah V: Merencanakan asuhan yang menyeluruh.
6. Langkah VI: Melaksanakan perencanaan
7. Langkah VII: Evaluasi

NOMENKLATUR DIAGNOSIS KEBIDANAN
1. Kehamilan normal
2. Partus normal
3. Syok
4. Denyut jantung janin tidak normal
5. Abortus
6. Solutio plasenta
7. Pielonefritis akut
8. Amnionitis
9. Anemia ringan/ berat
10. Apendisitis
11. Atonia uteri
12. Infeksi mamae
13. Pembengkakan mamae
14. Presentase bokong
15. Asma bronkiale
16. Presentase dagu
17. Disproposi sefalipelvik
18. Hipertensi kronik
19. Koagulopati
20. Presentase ganda
21. Sistitis
22. Pre-eklamsi ringan/ berat/ eklampsia
23. Kehamilan ektopik
24. Ensefalitis
25. Epilepsi
26. Hidramnion
27. Presentasi muka
28. Persalinan semu
29. Kematian janin
30. Hemoragik antepartum
31. Hemoragik postpartum
32. Gagal jantung
33. Inersia uteri
34. Infeksi luka
35. Inversio uteri
36. Bayi besar
37. Malaria berat dengan komplikasi
38. Malaria ringan tanpa komlikasi
39. Mekonium
40. Meningitis
41. Mastitis
42. Migren
43. Kehamilan mola
44. Kehamilan ganda
45. Partus macet
46. Posisi oksiput posterior
47. Posisi oksiput melintang
48. Kista ovarium
49. Abses pelvik
50. Peritonitis
51. Plasenta previa
52. Pneunomia
53. Hipertensi karena kehamilan
54. Ketuban pecah dini
55. Partus prematur
56. Prolapsus tali pusat
57. Partus fase laten lama
58. Partus kala II lama
59. Retensio plasenta
60. Sisa plasenta
61. Ruptur uteri, post-seksio sesaria
62. Bekas luka uteri
63. Luka episiotomi perineum
64. Presentase bahu
65. Distosia bahu
66. Robekan servik dan vagina
67. Tetanus
68. Letak lintang

Contoh masalah kebidanan
1. Ibu kurang informasi
2. Ibu tidak pernah ANC
3. Merasa nyeri pada luka episiotomi, luka pasca-seksio sesaria
4. Keluhan mulas yang mengganggu rasa nyaman
5. Merasa sakit pada payudara yang bengkak
6. Merasa takut dan cemas menghadapi persalinan
7. Merasa pusing, mual, dan muntah pada kehamilan muda
8. Merasa pusing karena hipertensi, hipotensi, dan perdarahan
9. Perut merasa berat pada kehamilan sungsang
10. Merasa nyeri pada infeksi luka

Contoh diagnosis potensial
1. Anemia ringan, potensial ke anemia berat
2. Perdarahan potensial ke hipotensi potensial ke syok
3. Pre-eklapmsi ringan potensial ke pre-eklapmsi berat atau potensial ke eklampsia
4. Luka episiotomi, luka pasca-seksio sesaria potensial ke infeksi
5. Sisa plasenta potensial keinfeksi
6. Distosia bahu potensial ke persalinan macet
7. Letak sungsang potensial ke persalinan macet
8. Bayi besar potensial ke persalinan macet
9. Kehamilan dengan anemia ringan/ berat potensial ke infeksi, berat badan lahir     rendah (BBLR),partus prematur,abortus.
10. BBLR potensial ke hipotermia, infeksi, asfiksia.

Ø  PEMBAHASAN
Menurut hasil observasi  kelompok kami bidan Dwi Rahmawati kami menyimpulkan bahwa, dalam pendataan yang beliau lakukan dalam semua tindakan yang dilakukan sudah baik dan jelas  dalam bentuk SOAP yang telah tercantum data yang berisi tentang data-data pasien yang  lengkap serta berbentuk laporan. Setiap  tindakan yang beliau lakukan dalam menangani  pasien selalu dengan dokumentasi berupa data SOAP. Dari  itulah di simpulkan bidan Dwi Rahmawati sudah baik dalam melakukan asuhan kebidanan  serta  teliti dalam  setiap tindakan yang di lakukannya guna sebagai pembuktian yang dapat beliau pertangungjawabkan dengan data-data yang  jelas. Jadi beliau sudah melakukan manajemen asuhan kebidanan dengan baik.


I.     Teori-teori kebidanan
Teori-teori dalam praktik kebidanan
1. Teori reva rubin
Penekanan rubin dalam teorinya adalah pencapaian peran ibu. Untuk mencapai peran tersebut seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-latihan dan dalam peran ini diharapkan seorang wanita mampu mengidentifikasi peran sebagai seorang ibu.

Perubahan yang umum terjadi pada waktu hamil
Cenderung tergantung dan membutuhkan peran lebih untuk berperan sebagai calon ibu.
Mempu memperhatikan perkembangan janinnya.
Membutuhkan sosialisasi.
Reaksi yang umum pada kehamilan
Trimester 1 : ambivalent, takut, fantasi, khawatir.
Trimester 2 : perasaan lebih nyaman, kebutuhan mempelajari tumbuh kembang janin, pasif, introvert, egosentris, self centered.
Trimester 3 : perasaan aneh, merasa jelek, sembrono, lebih introvert, merefleksikan terhadap pengalaman waktu kecil.
3 aspek yang diidentifikasi dalam peran ibu
Ideal image : gambaran tentang idaman diri
Self image : gambaran tentang diri
Body image : gambaran tentang perubahan tubuh
4 tahapan psikososial
Anticipatori stage : ibu melakukan latihan peran, dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain
Honeymoon stage : ibu mulai memahami peran dasarnya, dan memerlukan bantuan anggota keluarga lain
Plateu stage : ibu mencoba peran sepenuhnya, membutuhkan waktu
Disengagement : tahap penyelesaian dimana latihan peran dihentikan.
Adaptasi psikososial postpartum
Konsep dasar
  • Peride post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat saat melahirkan
  • Faktor yang mempengaruhi :
    • Respon dan dukungan dari keluarga dan teman
    • Hubungan pengalaman saat melahirkan terhadap harapan
    • Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
    • Pengaruh budaya
    • Periode diuraikan rubin dalam 3 fase, taking in, taking hold dan letting go
Periode taking-in
  • Terjadi pada 1-2 hari post partum, umumnya ibu pasif dan ketergantungan, perhatiannya tertuju pada diri sendiri
  • Ia mungkin akan mengulang-ulang pengalamannya waktu melahirkan
  • Kebutuhan akan istirahat sangat penting, pusing, iritabel
  • Peningkatan kebutuhan nutrisi
Periode taking-on
  • Berlangsung 2-4 hari post partum, ibu menjadi lebih perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua
  • Berkonsenterasi terhadap pengontrolan fungsi tubuhnya, seperti BAK, BAB, kekuatan dan ketahanan fisiknya
  • Ibu berusaha keras untuk merawat bayinya sendiri, agak sensitif, cenderung menerima nasihat bidan karena terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi
Periode letting go
  • Biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan keluarga
  • Beradaptasi dengan kebutuhan bayinya, menyebabkan berkurangnya hak ibu dan kebebasan hubungan sosial
  • Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini
Depresi post partum
  • Banyak ibu mengalami perasaan “let-down” setelah melahirkan, sehubungan dengan seriusnya pengalaman melahirkan dan keraguan akan kemampuan untuk mengatasi masalah secara efektif dalam membesarkan anak
  • Umumnya depresi sedang dan dapat diatasi 2 pekan kemudian
  • Jarang menjadi patologis sampai psikosis post partum.
2. Teori Ramona Mercer
Fokus teorinya lebih menekankan pada stress antepartum dalam pencapaian peran ibu
  • Memperhatikan wanita pada waktu persalinan
  • Mengidentifikasi pada hari awal post partum
  • Menunjukan bahwa wanita lebih mendekatkan diri pada bayi daripada melakukan tugasnya sebagai seorang ibu
Pokok pembahasan dalam teori Ramona Mercer
a. Efek stress antepartum
Antepartum stress adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam kehidupan. Tujuannya memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi lemahnya lingkungan serta dukungan sosial dan kurangnya percaya diri.
Faktor yang mempunyai hubungan dengan status kesehatan
  • Hubungan interpersonal
  • Peran keluarga
  • Stress antepartum
  • Dukungan sosial
  • Rasa percaya diri
  • Penguasaan rasa takut, keraguan dan depresi
Maternal role (peran ibu)
  • Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penguraian yang lengkap tentang diri sendiri (Mercer, 1986)
  • 1-2 juta ibu di Amerika yang gagal memerankan peran ini, terbukti dengan tingginya jumlah anak yang mendapat perlakuan yang kejam
b. Pencapaian peran ibu
  • Peran ibu dicapai dalam kurun wkatu tertentu dimana ibu menajdi dekat dengan bayinya, yang membutuhkan pendekatan yang kompeten termasuk peran dalam mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran
  • Peran aktif wanita sebagai ibu dan pasangannya berinteraksi satu dengan yang lain
4 langkah dalam pelaksanaan peran ibu
  • Anticipatory
Suatu masa sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita memulai penyesuaian sosial dan psikologis terhadap peran barunya nanti dengan mempelajari apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu
·         Formal
Tahap ini dimulai dengan peran ibu sesungguhnya, bimbingan peran secara formal dan sesuai dengan apa yang diharapkan sistem sosial
·         Informal
Tahap ini dimulai saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan peran ibu yang tidak disampaikan oleh sosial sistem
·         Personal
Merupakan tahap akhir pencapaian peran, dimana wanita telah mahir melaksanakan perannya sebagai seorang ibu. Ia telah mampu menentukan caranya sendiri dalam melaksanakan peran barunya
Faktor yang mempengaruhi wanita dalam pencapaian peran
Faktor ibu
  • Usia ibu saat bersalin
  • Persepsi ibu pada waktu persalinan pertama kali
  • Memisahkan ibu dan anak secepatnya
  • Stress sosial
Faktor bayi
  • Temperamen
  • Kesehatan bayi
Faktor lain
  • Latar belakang etnik
  • Status perkawinan
  • Status ekonomi
Pengaruh bayi (infant’s personality) pada waktu ibu melaksanakan peran sebagai ibu
  • Emotional support
Perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti
  • Informational support
Membantu individu untuk menolong dirinya sendiri dengan memberikan informasi yang berguna dan berhubungan dengan masalah atau situasi
  • Physical support
Pertolongan yang langsung, seperti membantu merawat bayi, memberikan dukungan dana
  • Appraisal support
Informasi yang menjelaskan tentang peran pelaksanaan, bagaimana ia menampilkannya dalam peran, hal ini memungkinkan individu mampu mengevalusi dirinya sendiri yang berhubungan dengan penampilan peran orang lain.
4 faktor dalam masa adaptasi:
1.    Physical recovery phase (mulai lahir sampai 1 bulan)
2.    Achievement phase (2-4/5 bulan)
3.    Disruption phase (6-8 bulan)
4.    Reorganisation phase (8-12 bulan)
Peran bidan yang diharapkan Mercer dalam teorinya
Adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugasnya dalam adaptasi peran fungsi ibuMengidentifikasi faktor apa yang mempengaruhi peran ibu dalam pencapaian peran fungsi ini dan kontribusi dari stress antepartum
3. Teori Ernestine Wiedenbach
Wiedenbach mengemukakan teorinya secara induktif  berdasarkan pengalaman dan observasinya dalam praktek.
Konsep asuhan, terdiri dari :
5.    The agent (midwife/bidan)
Untuk memenuhi kebutuhan ibu dan ayah dalam persiapan menjadi orang tua
6.    The recipient (wanita, keluarga, masyarakat)
Wanita/masyarakat yang oleh sebab tertentu tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Wiedenbach sendiri berpandangan bahwa recipient adalah individu yang berkompeten dan mampu menentukan kebutuhannya sendiri

7.    The goal (purpose/tujuan dari intervensi)
Disadari bahwa kebutuhan masing-masing individu  perlu diketahui sebelum menentukan goal. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka dapat diperkirakan goal yang akan dicapai dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosional atau fisiological yang berbeda dari kebutuhan normal.
8.    The means (metode untuk mencapai tujuan)
Untuk mencapai tujuan dari asuhan kebidanan ada beberapa tahap, yaitu :
Ø  Identifikasi kebutuhan klien
Ø  Memberikan dukungan dalam pelayanan yang dibutuhkan
Ø  Validation/bantuan yang diberikan
Ø  Koordinasi dengan tenaga yang direncanakan untuk memberikan bantuan
Ø  The framework (organisasi sosial, lingkungan profesional)
Untuk mengidentifikasi kebutuhan diperlukan pengetahuan, judgement/pengambilan keputusan, dan keterampilan.
4. Teori Ela Joy Lerhman
Teori ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktek kebidanan dalam memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada persalinan, teori ini juga menjelaskan perbedaan antara pengalaman seorang wanita dengan kemampuan bidan untuk mengaplikasikan konsep kebidanan dalam praktek

8  konsep penting dalam pelayanan kebidanan:
9.    Asuhan yang berkesinambungan
10.  Keluarga sebagai pusat asuhan
11.  Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
12.  Tidak ada intervensi dalam asuhan
13.  Keterlibatan dalam asuhan
14.  Advokasi dari klien
15.  Waktu
16.  Asuhan partisipatif
Bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pasien/klien ikut bertanggung jawab atau ambil bagian dalam pelayanan antenatal
Dalam pemeriksaan fisik, misalnya klien ikut melakukan palpasi pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan detak jantung.
Kedelapan komponen yang dibuat oleh Lehrman ini, kemudian diujicobakan oleh Morten (1991) pada klien post partum. Selanjutnya Morten menambahkan 3 komponen
Konsep Morten
1.    Teknik komunikasi Terapeutik
Proses komunikasi sangat penting dalam perkembangan dan penyembuhan. Misalnya, mendengarkan aktif, mengkaji, klarifikasi, humor, sikap yang tidak menuduh, pengakuan, fasilitasi, pemberian izin.
2.    Pemberdayaan( empowerment )
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan. Bidan dalam penampilan dan pendekatannya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
3.    Hubungan Sesama ( lateral relationship )
Menjalin hubungan yang baik terhadap klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga antara bidan dan kliennya tampak akrab. Misalnya : sikap empati atau berbagi pengalaman.
5. Teori Jean Ball
Teori kursi goyang Keseimbangan emosional ibu, baik fisik maupun psikologis
Psikologis dalam hal ini agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan menjadi orang tua terpenuhi
Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa untuk mengadopsi yang baru
Dalam teori kursi goyang, kursi dibentuk dalam 3 elemen:
4.    Pelayanan kebidanan
5.    Pandangan masyarakat terhadap keluarga
6.    Support terhadap kepribadian wanita
Teori Ball
1.    Teori perubahan,
2.    Teori stress, coping, dan support
3.    Teori dasar
Hipotesa Ball
1.    Respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak, dipengaruhi oleh personality/kepribadian
2.    Persiapan yang harus diantisipasi oleh bidan dalam masa post natal akan dipengaruhi oleh respon emosional wanita dalam perubahan yang dialaminya pada proses kelahiran anak

Kesimpulan hipotesa Ball
Wanita yang boleh dikatakan sejahtera setelah melahirkan sangat bergantung kepada kepribadiannya, sistem dukungan pribadi, dan dukungan yang dipersiapkan pelayanan kebidanan.
Ø  PEMBAHASAN
Dalam melaksanakan asuhan di poskesdes sehari-harinya, beliau telah berhasil menerapkan teori praktik kebidanan. Dalam pencapaian peran ibu,beliau berhasil merangkul para ibu dan memberi bimbingan dan konseling pada sang calon ibu sehingga dapat mencapai peran menjadi seorang ibu. Beliau melakukan pendekat,bimbingan, serta nasihat- nasihat pada ibu yang mengalami stres anterpartum sehingga sang ibu bisa melewati masa-masa sulit tersebut dan mencapai perannya menjadi ibu.  Dengan pengetahuan,keadilan,dan keterampilan yang beliau miliki,berhasil melaksanakan pelayanan yang baik.Semakin luas nya tugas yang diberikan kepada bidan diharapkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktik memberikan asuhan kepada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada paersalinan,Dan beliau sudah berhasil menjalankan 8 konsep teori kebidanan dalam pelayanan antenatal.Perubahan setelah melahirkan akan mempengaruhi personaliti seseorang dengan dukungan mereka akan mendapatkan sistem keluarga dan sosial.kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personaliti dan kepribadian.Sistem dukungan pribadi  dan dukungan maternitas namun semua cakupan itu sudah di terapkan oleh bidan Dwi Rhmawati.

J.   Sistem penghargaan bagi bidan
Sistem Penghargaan Bagi Bidan (Reward,Sanksi,dan Jabatan fungsional bidan)
1.    Penghargaan Bagi Bidan

Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian kewenangan / hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3,hak adalah kewenangan untuk berbuat sesuatu yang telah ditentukan oleh undang-undang atau aturan tertentu. Bidan di Indonesia memiliki organisasi profesi yaitu Ikatan Bidan Indonesia atau IBI yang mengatur hak dan kewajiban serta penghargaan dan sanksi bagi bidan. Setiap bidan yang telah menyelesaikan pendidikan kebidanan berhak dan wajib menjadi anggota IBI.

Hak bidan :
a.    Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b.    Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat jenjang pelayanan kesehatan.
c.    Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan peraturan perundangan,dank ode etik profesi.
d.    Bidan berhak atas privasi / kedirian dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh pasien,keluarga ataupun profesi lain.
e.    Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan.
f.     Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.
g.    Bidan berhak mendapatkan kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.

Wewenang bidan antara lain:
a.    Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetric dan neonatal.
b.    Bidan harus melaksanakan tugas kewenagan sesuai standar profesi,memiliki kemampuan dan ketrampilan sebagai bidan,mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku di wilayahnya dan bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi.
c.    Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada masa pranikah termasuk remaja putrid,pra hamil,kehamilan,persalinan,nifas,menyusui,dan masa antara kehamilan.

Dalam lingkup IBI,anggota mempunyai hak tertentu sesuai dengan kedudukannya,yaitu:
1.    Anggota Biasa
a. Berhak mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi.
b. berhak mengemukakan pendapat ,saran, dan usul untuk kepentingan organisasi.
c. berhak memilih dan dipilih.
2.    Anggota Luar Bisaa
a.Dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan organisasi.
b.Dapat mengemukakan pendapat ,saran,dan usul untuk kepentingan organisasi.
3.    Anggota Kehormatan
Dapat mengemukakan pendapat,saran,dan usul untuk kepentingan organisasi.

2.    Sanksi Bagi Bidan

Sanksi merupakan imbalan negative yang berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang berlaku.
Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak / kewajiban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi,karena kode etik bidan merupakan norma yang berlaku bagi anggota IBI dalam menjalankan praktek profesinya yang telah disepakati dalam Kongres Nasional IBI.
Kode etik bidan :
a.    Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
a)    Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
b)    Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
c)    Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
d)    Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien.
e)    Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluaraga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
f)     Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajart kesehatannya secara optimal.
b.    Kewajiban bidan terhadap tugasnya
a)    Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
b)    Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau rujukan
c)    Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
c.    Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
a)    Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.
b)    Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya
d.    Kewajiban bidan terhadap profesinya
a)    Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat
b)    Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
c)    Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.
e.    Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
a)    Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
b)    Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
c)    Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.
f.     Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsa dan tanah air
a)    Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayananan Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga.
b)    Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga

Dalam organisasi IBI terdapat Dewan Pertimbangan Etika Bidan (MPEB) dan Majelis Pembelaan Anggota (MPA),yang memiliki tugas :
~ merencanakan dan melaksanakan kegiatan bidang sesuai dengan ketetapan pengurus pusat.
~ melaporkan hasil kegiatan di bidang tugasnya secara berkala.
~Memberikan saran dan pertimbangan yang perlu dalam rangka tugas pengurus pusat.
~ membentuk tim teknis sesuai kebutuhan,tugas dan tanggung jawabnya ditentukan pengurus.
MPEB dan MPA merupakan majelis independen yang berkonsultasi dan berkoordinasi dengan pengurus inti dalam IBI tingkat nasional. MPEB secara internal memberikan saran,pendapat,dan buah pikiran tentang masalah pelik yang sedang dihadapi khususnya yang menyangkut pelaksanaan kode etik bidan dan pembelaan anggota.
MPEB dan MPA bertugas menkaji,menangani dan mendampingi anggota yang mengalami permasalahan dalam praktik kebidanan serta masalah hukum.

Ø  PEMBAHASAN

Dari hasil opservasi kelompok kami bidan Dwi Rahmawati kami menyimpulkan bahwa , dalam sistem penghargaan bukan saja berupa piagam atau Piala dan uang, tetapi bagaimana kita memberi asuhan pelayanan dengan baik dan pasien merasa puas dengan pelayanan yang kita harapkan sehingga kita mempunyai kepuasan tersendiri, walaupun tidak dalam bentuk nyata.

K.  Prinsip Pengembangan Karier Bidan

Dalam mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin bermutu terhadap pelayanan kebidanan, perubahan-perubahan yang cepat dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat dan perkembangan IPTEK serta persaingan yang ketat di era global ini diperlukan tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan yang berkualitas baik tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap profesionalisme.
IBI sebagai satu-satunya wadah bagi bidan telah mencoba berbuat untuk mempersiapkan perangkat lunak melalui kegiatan dalam lingkup profesi yang berkaitan dengan tugas bidan melayani masyarakat di berbagai tingkat kehidupan. Oleh karena IBI bertanggung jawab untuk mendorong tumbuhnya sikap profesionalisme bidan melalui kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah. Karena keberadaan IBI ditengah-tengah anak bangsa merupakan pengabdian profesi dan juga kehidupan bidan itu sendiri. Oleh karena itu, IBI senantiasa turut berperan aktif dalam berbagai upaya yang diprogramkan pemerintah baik pada tingkat pusat maupun tingkat daerah sampai ke tingkat ranting. Hal tersebut diupayakan untuk meningkatkan kualitas hidup anak bangsa dan sekaligus kualitas bidan sebagai pelayan masyarakat khususnya ibu dan anak. Untuk itu seyogyanya pendidikan bidan dirancang secara berkesinambungan, berjenjang, dan berkelanjutan.

1.    Pendidikan Berkelanjutan
Pendidikan berkelanjutan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, hubungan antar manusia dan moral bidan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau pelayanan dan standart yang telah ditentukan oleh konsil melalui pendidikan formal dan non formal
A.   Visi dan Misi
1.    Visi pendidikan berkelanjutan

Visi pendidikan berkelanjutan adalah pada tahun 2010 seluruh bidan telah menerapkan pelayanan yang sesuai standar praktik bidan internasional dan dasar pendidikan minimal Diploma III kebidanan.
2.    Misi pendidikan berkelanjutan

1. Mengembangkan pendidikan berkelanjutan berbentuk "sistem".
2. Membentuk unit pendidikan bidan di tingkat pusat, provinsi,daerah,kabupaten,dan cabang.
3. Membentuk tim pelaksana pendidikan berkelanjutan.
4. Mengadakan jaringan dan bekerjasama dengan pihak terkait.

B.   Tujuan dan Sasaran

Tujuan pendidikan berkelanjutan kebidanan, yaitu:
1. Pemenuhan standar.
Organisasi profesi bidan telah menentukan standar kemampuan bidan yang harus dikuasai melalui pendidikan berkelanjutan. Bidan yang telah lulus program pendidikan kebidanan tersebut wajib melakukan registrasi pada organisasi profesi bidan untuk mendapatkan izin memberi pelayanan kebidanan kapada pasien.
2. Meningkatkan roduktivitas kerja.
Bidan akan dipacu untuk terus meningkatkan jenjang pendidikan mereka sehingga pengetahuan dan keterampilan (technical skill bidan akan lebih berkualitas. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja bidan dalam memberi pelayanan pada klien.


3. Esiensi.
 Pendidikan bidan yang berkelanjutan akan melahirkan bidan yang kompeten di bidangnya sehingga meningkatkan efisiensi kerja bidan dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi klien.

4. Meningkatkan kualitas pelayanan.

 Pendidikan bidan yang berke¬lanjutan akan memicu daya saing di kalangan profesi kebidanan agar terus meningkatkan kualitasnya dalam memberi pelayanan kepada klien. Pelayanan kebidanan yang berkualitas akan menarik konsumen.

5. Meningkatkan moral.

Melalui pendidikan bidan yang berkelanjutan tidak hanya pengetahuan dan keterampilan bidan dalam memberi pelayanan yang menjadi perhatian, tetapi moralitas dan etika seorang bidan juga ditingkatkan untuk menjamin kualitas bidan yang profesional.

6. Meningkatkan karier.

Peluang peningkatan karier akan semakin besar seiring peningkatan kualitas pelayanan, performa, dan prestasi kerja

7. Meningkatkan kemampuan konseptual.

Kemampuan intelektual dan konseptual bidan dalam menangani kasus pasien akan terasah se¬hingga bidan dapat memberi asuhan kebidanan dengan tepat.

8. Meningkatkan keterampilan kepemimpinan (leadership skill).
 Bidan akan memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik. sebagai seorang manajer, bidan dibekali keterampilan untuk dapat berhubungan dengan orang lain (human relation) dan bekerjasama dengan sejawat serta multidisiplin lainnya guna memberi pelayanan yang berkualitas bagi klien.

9. Imbalan (kompensasi).
Asuhan bidan yang berkualitas akan menarik konsumen dan meningkatkan penghargaan atas pelayanan yang diberikan.

10. Meningkatkan keprsasan konsumen.

Kepuasan konsumen akan me¬ningkat seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.

Sasaran dalam pendidikan berkelanjutan
1. Bidan praktik swasta.
2. Bidan berstatus pegawai negeri.
3. Tenaga kesehatan lainnya.
4. Kader kesehatan, dukun beranak (paraji).
5. Masyarakat umum.

C.   Jenis dan karakteristik pendidikan berkelanjutan

Jenis pendidikan berkelanjutan

1. Seminar, lokakarya.
2. Magang.
3. Pengembangan (manajemen, hubungan interpersonal, komunitas).
4. Keterampilan teknis untuk pelayanan.
5. Administrasi.
6. Lain-lain, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Karakteristik pendidikan berkelanjutan
Pendidikan berkelanjutan bidan sebagai sistem memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.    Komprehensif.
 Sistem pendidikan berkelanjutan harus dapat men¬cakup seluruh anggota profesi kebidanan
2.    Berdasarkan analisis kebutuhan.
Sistem pendidikan berkelanjutan menyelenggarakan pendidikan yang berhubungan dengan tugas (job related) dan relevan dengan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
3.    Berkelanjutan.
Sistem pendidikan berkelanjutan menyelenggarakan pendidikan yang bersinambungan dan berkembang.
4.    Terkoordinasi secara internal.
Sistem pendidikan berkelanjutan bekerjasama dengan institusi pendidikan dalam memanfaatkan sumber daya dan mengelola berbagai program pendidikan berkelanjutan.
5.    Berkaitan dengan sistem lainnya.
Sistem pendidikan berkelanjutan memiliki tiga aspek subsistem yang merupakan bagian dari sistem¬-sistem lain di luar sistem pendidikan berkelanjutan.
Ketiga aspek tersebut adalah:
a. Perencanaan tenaga kesehatan (health manpower planning).
b. Produksi tenaga kesehatan (health manpower production).
c. Manajemen tenaga kesehatan (health manpower management).

    2.  Job Fungsional

Jabatan dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional. Jabatan struktural adalah jabatan yang secara jelas tertera dalam struktur dan diatur berjenjang dalam suatu organisasi, sedangkan jabatan fungsional adalah jabatan yang ditinjau serta dihargai dari aspek vital dalam kehidupan masyarakat dan negara.
Seseorang yang memiliki jabatan fungsional berhak untuk mendapatkan tunjangan fungsional.
Pengembangan karier bidan meliputi karir fungsional dan karir struktural. Pengembangan karier bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional sebagai bidan serta melalui pendidikan berkelanjutan, baik secara formal maupun nonformal, dan hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya. Bidan dapat berfungsi sebagai bidan pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti, koordinator, dan penyelia.
Sedangkan karier bidan dalam jabatan struktural bergantung pada tempat bidan bertugas,, apakah di rumah sakit, di puskesmas, di desa, atau di institusi swasta. Karier tersebut dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan kebidanan/kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kesempatan, dan kebijakan yang ada.
 
  3. Prinsip Pengembangan Karir
A. Pengertian Pengembangan karir
Pengembangan karir merupakan kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan jenjang jabatan dan jenjang pangkat bagi seorang pegawai negeri pada suatu organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi.
Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karier struktural yaitu:
1. Karier Fungsional                                                                 
Pengembangan karier bidan secara fungsional telah disiapkan dengan jabatan fungsional sebagai bidan serta melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun secara non formal yang hasil akhirnya akan meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya. Fungsi bidan nantinya dapat sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti, bidan koordinator dan bidan penyelia.
2. Karier Struktural
Karier bidan dalam jabatan struktural tergantung dimana bidan bertugas apakah di Rumah Sakit, Puskesmas, Bidan di desa atau Bidan di institusi swasta. Karier dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan kebidanan atau pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kesempatan dan kebijakan yang ada.
B. Prinsip pengembangan karir bidan dikaitkan dengan peran, fungsi dan tanggung jawab bidan.
Dalam melaksanakan profesinya bidan mempunyai peran dan fungsi sebagai pelaksana, pengelola, pendidik,dan peneliti.
1. Pelaksana
Sebagai pelaksana, bidan memiliki tiga kategori tugas, yaitu tugas mandiri, kolaborasi dan ketergantungan.
a. Tugas Mandiri
Tugas mandiri bidan, yaitu:
1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidananyang diberikan
2) Memberikan pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan wanita dengan melibatkan mereka sebagai klien
3) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal
4) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien atau keluarga
5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
6) Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien atau keluarga
7) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana
8) Memberikan asuhan kebidanan kepada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta menopouse
9) Memberikan asuhan kebidanan kepada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga
b. Tugas Kolaborasi
Tugas-tugas kolaborasi (kerja sama) bidan, yaitu :
1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien atau keluarga
2) Memberikan asuhan kebidanan kepada ibu hamil dengan resiko tinggi dan pertolongan pertamam pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
3) Memberikan asuhan kebidanan kepada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien atau keluarga
4) Memberikan asuhan kebidanan kepada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
5) Memberikan asuhan kebidanan kepada bayi baru lahir dengan resiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
6) Memberikan asuhan kebidanan kepada balita dengan resiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.
c. Tugas Ketergantungan
Tugas ketergantungan yaitu :
1) Menetapkan manajemen kebidanan kepada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dengan keluarga.
2) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada kasus kehamilan dengan resiko tinggi serta kegawatdaruratan
3) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien atau keluarga
4) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu masa nifas yang disertai penyulit tertentu dan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga
5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan keluarga
6) Memberikan asuhan kebidanan pada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan klien atau keluarga
2. Pengelola
Sebagai pengelola bidan memiliki dua tugas, yaitu tugas pengembangan pelayanan dasar kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim
a. Bidan bertugas mengembangkan pelayanan dasar kesehatan, terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat di wilayah kerja dengan melibatkan masyarakat atau klien.
b. Bidan berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan sektor lain di wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan, serta tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam wilayah kerjanya.

3. Pendidik
Sebagai pendidik bidan memiliki dua tugas, yaitu sebagai pendidik dan penyuluh keehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader
a. Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok, serta masyarakat) tentang penanggulangan masalah kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana.
b. melatih dan membimbing kader, peserta didik kebidanan dan keperawatan serta membina dukun di wilayah atau tempat kerjanya
4. Peneliti atau Investigator
Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan baik secara mandiri maupun berkelompok
Sebagai tenaga yang profesional, bidan memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Seorang bidan harus dapat mempertahankan tanggung jawabnya bila terjadi gugatan terhadap tindakan yang dilakukannya.
1. Tanggung Jawab Terhadap Peraturan
Tugas dan kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan praktik bidan diatur di dalam peraturan atau keputusan Menteri Kesehatan.
Kegiatan praktik bidan dikontrak oleh peraturan tersebut. Bidan harus dapat mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan
2. Tanggung Jawab Terhadap Pengembangan Kompetensi
Setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya. Oleh karena itu, bidan harus slalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan mengikuti pelatihan, pendidikan berkelanjutan, seminar serta pertemuan ilmiah lainnya.
3. Tanggung Jawab Terhadap Dokumentasi
Setiap bidan diharuskan mendokumentasikan setiap tinadakan yang diberikan kepada klien sebagai bahan laporan kepada atasan dan dapat dipertanggung jawabkan bila terjadi gugatan.
4. Tanggung Jawab Terhadap Keluarga yang Dilayani
Tanggung jawab bidan tidak hanya pada KIA, tetapi juga menyangkut kesehatan keluarga. Bidan harus dapat mengidentifikasi masalah dan kebutuhan keluarga serta pelayanan yang tepat. Pelayanan kesehatan keluarga merupakan kondisi yang diperlukan ibu untuk rasa aman, kepuasan dan kebahagiaan selama masa kehamilan. Sehingga bidan harus mengerahkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilakunya dalam memberikan pelayanan kesehatan keluarga
5. Tanggung Jawab Terhadap Profesi
Bidan harus ikut serta dalam kegiatan organisasi kebidanan. Untuk mengembangkan kemampuan profesinya, bidan harus mencari informasi mengenai perkembangan ilmu kebidanan.

6. Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat
Bidan merupakan anggota masyarakat yang turut bertanggung jawab dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat baik secara mandiri maupun bersama tenaga kesehatan lain.
Ø  PEMBAHASAN

Perkembangan pendidikan dan karir kebidanan  berjalan seiring dan selalu berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan.Dalam perkembangannya,selalu mengikuti tuntutan dan kebutuhan masyarakakt.oleh sebab itu seorang bidan harus bisa mengikuti perkembangan pendidikan dan perkembangan karir.tuntutan akademis belum tentu menjadi persyaratan dalam pelaksanaan pendidikan .Namun dilihat dari besarnya tanggung jawab pelayanan .Dalam hal ini bidan Dwi Rahmawati sudah  menempuh perkembangan karir yang memadai ,alangkah baiknya lagi jika bidan Dwi Rahmawati melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
  1. Pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan
Ø  Pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan
Pemasaran di identik dengann Proses perdagangan barng yang diorentasikan sbg preoses jual beli dan tawar menawar. Sehingga pemasaran kadang menjadi hal yang terlupakan ketika kita membahas tentang penyediaan jasa.

Definisi Pemasaran menurut beberapa ahli adalah sbb :
1.    Sumarni dan Soeprihanto ( 1995 ).
Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untukmerencanakan, menentukan harga,mempromosikan dan mendisri busikan barang dan jasa yang memuaskan.
2.    W.Y. stanton ( 1997 )
Pemasaran adlah : Sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengann tujuan dr sebuah perencanaan dan penentuan herga sampai dengann promosi & distribusi barang dan jasa yangbisa memuskan kebutuhan pembeli.
3.    Trioso Purnawarman ( 2001 )
Pemasaran adalah : suatu proses social dan manaserial dimanan individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginann mereka dengann menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sma lain.

“ Definisi ini berdarkan pd konsep ini yaitu :

Kebutuhan keinginan dan permintaan : produk, nilai, biaya, dan keputusan : perukaran,transaksi dan hubungan: pasar, pemasaran dan pemasaran / penyedia.

Adapun tujuan pemasaran adlh mengenal dan memahami pelanggaran sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannnya dan dpt terjual dengann sendirinya.

Proses pemasaran dpt dijelaskan lbh rinci dlm langkah2 sbb
Langkah 1 adlh analisis yaitu dengann membuat inventarisasi kelompok sasaran dan mencari institusi2 / stakeholder yang dpt membantu dan bekerja sama.
Langkah 2 yaitu melakukan riset untuk mengetahui tanggapan masyarakat terutama klmpk sasaran trhdp produk atau jasa pelayanan yang akan diberikan.
Langkah 3 adalah menyusun srategi pemasaran. Strategi yang digunakan disini merupakan serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Faktor2 nya adlh :
Faktor Mikro : yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat.
Faktor Makro : yaitu demografi / ekonomi politik / hukum, teknologi / fisik dan sosial / budaya.

Strategi dan kiat pemasaran darisudut pandang penjual dpt disingkat dlm ( 4 ) yaitu :
1.    tempat yang strategis ( Place )
2.    produk yang bermutu ( Product )
3.    Harga yang komeptitif ( Price )
4.    promosi yang gencar ( Promotion )
sedangklan dari sudut pandang pelanggan /pembeli/customer yaitu (4 C) :
1.    Kebutuhan dan keinginan pelanggan (customer needs and wants)
2.    Biaya pelanggan (cost to the customer)
3.    Kenyamanan (convenience)
4.    Komunikasi (comunication)

langkah ke 4 adalah monitoring dan evaluasi.monitoring adalah proses untuk menentukasn kekurangan atau kesalahan pd strategi yang telah ditetapkan.
Langkah ke 5 adalah pelaksanaan proses pemasaran .kegiatan ini mengunakan media yang telah dipersiapkan untuk menunjang program melalui pesan2 sehingga akan diingat oleh masyarakat luas ataupun khussusnya bagi konsumen.

Dalam hal ini ” pemasaran sosial dpt diartikan sebagai suatu kegiatan menjual produk yangberupa komoditi tertentu spt pelayanan, ide atau gagasan dengann mengaitkan pd kebutuhan atau minat masyarkat.

Tujuan pemasaran sosial sbb :
memberikan pelayanan yang bermutu yang dibutuhkan masyarakat.
memberikan pelayanann dengann standar praktik, keterampilan yang mantap ( dalam memberikan pelayanan kpd klien )


Tujuan akhir dan konsep,

Kiat dan strategi pemasaran adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya ( total customer satisfaction ) . keputusan pelanggan sepenuhnya bukan berarti meberikan kpd apa yang menurut kita keinginan dr mereka, tetap apayang sesungguhnya mereka inginkan serta kapan dan bagaimanan mereka inginkan. Atau secara singkat adlah memenuhi kebtuhan pelanggan.

Konsep pemasaran yang perlu dipahami dlm kaitannya dengann pemasaran social jasa asuhan kebidanana adlah faktor2 yang mempengaruhi pemasaran yaitu
1.    kebutuhan, keinginan dan permintaan.

- keinginan ( wants ) adalah hasrat akan suatu hal sesuai dengann kebutuhannya

- permintaan ( demands ) adalah keinginan akan sesuatu yang didukung dengann kemampuan serta kesediaan membelinya.
2.    Produk
Produk merupakan sesuatu yang dpt ditawarkan utnuk memuaskan suatu kebtuhan / keinginan masyarakat.
3.    Transaksi
Transaksi merupakan proses seseorng mendapatkan produk baik dengann memproduksi sendiri,pemaksaan, meminta maupun pertukaran
4.    Pertukaran
Pertukaran merupakan tindakan memperoleh barang yang dibutuhkan atau dikehendaki seseorang dengann menawarkan suatu imbalan
5.    Pasar
Pasar terdiri darisemua pelangan yang potensial memiliki kebutuhan yang sama dan bersedia Dan mampu melaksankan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut:

Pemasaran social adalah penerapan teknik peamsaran niaga untuk mencapai suatu tujuan social yang bermanfaat ( HIV / AIDS Prevention Project ( HAPP), 1999 ).
1.    Kemapuan berwirausaha, wirausaha social bersifat praktis dan pragmatis.
2.    dampak social, seorang wirausahawan haruslah beride baru, praktis dan cukup berguna, sehingga akan digunakan oleh orng lain begitu ide tsb diaplikasikan.
3.    Karaktereritis, adlh seseorang yang dpt menjalankan fungsi2 layanan public. Atau orng yang dpt dipercaya dan menjaga kehormatannya.



Ø  PEMBAHASAN
Pemasaran sosial merupakan suatu kegiatan menjual produk yang berupa komoditi tertentu seperti pelayanan,ide atau gagasan dengan mengaitkan pada kebutuhan atau minat masyrakat. Dalam mempromosikan jasa asuhan kebidanan beliau memasang plang nama  di depan poskesdes. Beliau juga melakukan tindakan dalam penyediaan pengetahuan dalam bentuk brosur   untuk  para klien. Untuk meningkat kesehatan balita didesa tersebut beliau melaksanakan imunisasi rutin dua kali sebulan yakni minggu kedua dan keempat. Beliau tidak membedakan antaramiskin dan kaya semua beliau tetapkan  dengan tarif persalinan yang sama sesuai standar yang di tetapkan IBI. Serta beliau memperhatikan kenyaman klien  serta menjalin komunikasi yang baik dengan klien


BAB  IV
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
    1. Dari semua data yang telah disajikan secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Poskesdes Bakti Rini Dwi Rahmawati telah melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai standar yang berlaku sebagai peran dan fungsinya sebagai seorang bidan dengan memakai sarana dan prasarana yang ada.
    2. Dari hasil observasi evaluasi kelompok kami cakupan program dan dampaknya di bidang kesehatan menujukan hasil yang cukup baik.
    3. Dari hasil observasi kelompok kami menyimpulkan bahwa bidan Dwi Rahmawati sudah menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan kode etik kebidanan yang berlaku dan menjalankan asuhan kebidanan sesuai dengan standar IBI.

B.   SARAN
1.    Meningkatkan sarana prasarana dalam asuhan pelayanan kebidanan seperti alat-alat kessehatan, dan tempat praktik.
2.    Meningkatkan pengetahuan dalam bidang kesehatan agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan IPTEK.
    1. Untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan dan mengantisifasi segala dampak pembangunan perlu dibuat terobosan baru dalam menangulangi dan menghadapi masalah-masalah baru yang timbul.
    2. Meningkatkan pemahaman tentang kewenangan bidan,sebagai tenaga profesional,organisasi,dan pelaksanan pelayanan kesehatan.


          

1 komentar:

  1. (Srimuliani Handoyokusumo; Lolos PNS Guru di lingkungan Kemenag Berau)

    Berawal dari keinginan kuat untuk mengikuti test tertulis CPNS yang dilaksanakan oleh PEMDA Berau dimana saya tinggal, saya pun ikut berpartisipasi mengkutinya. Namun sebenarnya bukan sekedar hanya berpartisipasi tapi terlebih saya memang berkeinginan untuk menjadi seorang PNS. Waktu pun terus berjalan, karena tertanggal 5 Desember 2013 yang lalu saya pun mengikuti Test CPNS yang diselenggarakan oleh PEMDA Berau dengan harapan yang maksimal yaitu menjadi seorang PNS. Kini tanggal 18 Desember 2013, pengumuman test kelulusan tertulis itu diumumkan. Dengan sedikit rasa was-was dan bercampur tidak karuan menyelimuti pikiranku. Rasa pesimisku memang timbul, karena pengumuman yang di informasikan adalah tertanggal 11 Desember 2013 namun di undur tanggal 18 Desember 2013. Dengan mengucapkan BISMILLAH, aku pun masuk ke halaman kantor BKD untuk melihat hasil pengumuman test tertulis CPNS. Dan Syukur Alhamdulillah saya pun LULUS diurutan ke 3 dari 1 formasi yang aku ikuti di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Dan berikut peringkat screen shoot yang saya jepret menggunakan Ponsel kesayangku.

    Puji Syukur tak henti-hentinya aku panjatkan ke Hadirat Allah SWT, atas rezeki yang diberikan kepadaku. Semua hasil ini saya ucapkan terimakasih kepada :

    1. ALLAH SWT; karena KepadaNya kita mengemis dan memohon.

    2. Suami dan Anak [DikMa]; Dukungan Do’anya sangat berharga dalam pencapaian saat ini.

    3. Orang Tua, Saudara-saudaraku; Tetap mensupport aku selama 3 bulan terakhir ini, terimakasih Mama, terima kasih Kakak Perempuan ku, terima kasih Kakak Laki-laki ku tak terlepas juga buat teman-temanku terimakasih semuanya.

    4. Terimakasih untuk khususnya Bpk.IR.AGUS SUTIADI M.SI beliau selaku petinggi BKN PUSAT,dan dialah membantu kelulusan saya selama ini,alhamdulillah SK saya tahun ini bisa keluar.anda ingin LULUS seperti saya silahkan anda hubungi nomor bpk IR.AGUS SUTIADI M.SI,0852-3687-2555.

    BalasHapus